Find and Follow Us

Kamis, 23 Januari 2020 | 13:20 WIB

Siapa Menguasai Minyak Suriah?

Minggu, 24 November 2019 | 07:03 WIB
Siapa Menguasai Minyak Suriah?
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta--Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin agar negaranya mendapat bagian keuntungan jutaan dolar per bulan dari pendapatan minyak Suriah selagi tentara AS berada di sana menjaga ladang-ladang minyak itu.

Presiden Suriah Bashar al-Assad menanggapi keinginan Trump itu dengan menuduh AS "mencuri minyak" dari negaranya.

Sedangkan Rusia, sekutu dekat Assad, menanggapi dengan menyebutnya sebagai "negara bandit internasional".

Siapa sebenarnya yang menguasai produksi minyak Suriah dan mendapat keuntungan?

Kekuatan besar berlomba

AS mengumumkan penarikan pasukan dari Suriah bulan Oktober 2019, tapi hingga kini masih menempatkan 500 serdadu untuk menjaga fasilitas minyak bersama dengan pasukan Kurdi yang kini merupakan penerima manfaat utama dari produksi minyak itu.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyatakan pasukan AS berada di sana untuk menjaga minyak, tak hanya dari kelompok yang menamakan diri negara Islam atau ISIS, tetapi juga dari pasukan Rusia dan Suriah.

Suriah dan Rusia berupaya untuk mengambil alih produksi minyak serta fasilitas-fasilitasnya.

Kedua negara telah menandatangani kesepakatan kerja sama energi tahun 2018 yang memberi hak eksklusif kepada Moskow untuk membangun kembali sektor minyak dan gas Suriah.

Dalam konteks inilah, Trump mengumumkan keinginannya untuk ikut mendapat keuntungan dari minyak yang menurutnya turut dijaga oleh pasukan AS.

Berapa produksi minyak Suriah?

Sektor minyak dan gas merupakan penyumbang penting bagi penghasilan pemerintah Suriah, sekalipun kecil dibandingkan dengan negara-negara lain di Timur Tengah.

Tahun 2018, diperkirakan ada 2,5 miliar barel cadangan minyak di Suriah.

Bandingkan dengan Arab Saudi yang punya cadangan minyak 297 miliar barel, Iran 155 miliar barel dan Irak 147 miliar barel.

Ladang minyak terpusat sekitar Provinsi Deir al-Zor di Suriah bagian timur dekat perbatasan Irak, dan Hasakah di timur laut.

Namun produksi minyak Suriah turun sejak konflik terjadi di tahun 2011.

Tahun 2008, Suriah memproduksi 406.000 barel per hari (bph), menurut British Petroleum Statistical Review of World Energy 2019.

Tahun 2011 produksi jatuh ke 353.000 bph, lalu terjun ke 24.000 bph tahun 2018.

Pemerintah Suriah kehilangan kendali atas ladang minyak yang jatuh ke tangan kelompok oposisi, dan kemudian ke tangan ISIS seiring meningkatnya perang.

Tahun 2014 ISIS berhasil merebut ladang minyak di Suriah Timur, termasuk yang terbesar yaitu ladang al-Omar di Provinsi Deir ez-Zor.

Penjualan minyak menjadi sumber pemasukan utama bagi ISIS, dengan nilai US$40 juta per bulan di tahun 2015, menurut Kementerian Pertahanan AS.

Ketika ISIS kalah tahun 2017, mereka kehilangan kendali ladang minyak yang jatuh ke tangan pasukan Kurdi yang didukung AS, Syrian Democratic Forces (SDF).

Ladang minyak Suriah rusakan parah akibat serangan udara AS dalam upaya mereka mengganggu sumber pemasukan utama ISIS.

ISIS sendiri kemudian menghancurkan infrastruktur minyak ketika semakin jelas bahwa ladang-ladang itu bakal jatuh ke tangan kekuatan Kurdi.

Kelompok SDF mulai mengambil alih ladang minyak di Suriah timur laut dan sepanjang sungai Eufrat dari tangan ISIS pada tahun 2017.

Mereka berhasil memperbaiki kerusakan dan mulai memulihkan sebagian produksi.

Jonathan Hoffman, asisten Menteri Pertahanan AS mengatakan "keuntungan dari ladang minyak tidak didapatkan Amerika, tapi beralih ke SDF".

"SDF dan sekutunya di Suriah timur sekarang ini menguasai sekitar 70% cadangan minyak Suriah dan sejumlah fasilitas pengolahan gas," menurut Charles Lister dari Middle East Institute.

"Produksi di fasilitas ini jauh di bawah produksi sebelum perang, tapi tetap merupakan sumber pemasukan penting bagi SDF," katanya.

Sekalipun serangan Turki di utara Suriah membuat pasukan Kurdi kehilangan wilayah yang mereka kuasai, kebanyakan ladang minyak di sisi timur Sungai Eufrat masih berada di bawah penguasaan SDF.

Presiden Assad sangat menginginkan akses kepada ladang-ladang minyak itu, dan tanpa hal ini pemerintahannya harus mengimpor dalam jumlah besar.

Namun, sebagai konsekuensi dari AS dan Uni Eropa, bahkan sulit bagi Damaskus untuk mendapatkan pasokan dari impor.

Pemasok minyak utama mereka kini adalah Iran, tetapi pasokan ini juga semakin terbatas seiring sanksi sekunder yang diterapkan AS terhadap negara ataupun perusahaan yang terlibat perdagangan dengan Suriah. [bbc/lat]

Komentar

x