Find and Follow Us

Kamis, 14 November 2019 | 21:42 WIB

Presiden Bolivia Evo Morales Mundur

Senin, 11 November 2019 | 09:28 WIB
Presiden Bolivia Evo Morales Mundur
Presiden Bolivia Evo Morales - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Sucre--Presiden Bolivia Evo Morales mengundurkan diri di tengah kekacauan menyusul terpilihnya kembali dirinya dalam pemilu yang disengketakan bulan lalu. Demikian BBC, Senin (11/11/2019).

Pada Minggu (10/11/2019), pengawas internasional menyerukan agar hasil pemilu dibatalkan, dengan mengatakan bahwa mereka telah menemukan "manipulasi yang jelas" dari hasil pemilu 20 Oktober lalu.

Morales sepakat dengan temuan itu dan mengumumkan niatnya untuk menggelar pemilu yang baru--setelah merombak komisi pemilihan umum negara tersebut.

Akan tetapi para politisi--serta panglima militer dan kepala kepolisian--telah mendesaknya untuk mundur.

Dalam pernyataannya di televisi, Morales mengatakan ia akan mundur dari posisinya sebagai presiden, dan mendesak para pengunjuk rasa untuk "berhenti menyerang saudara-saudari, berhenti membakar dan menyerang".

Beberapa sekutunya diserang awal pekan lalu, dan mengatakan bahwa rumah mereka telah dibakar.

Sang wakil presiden, Alvaro Garcia Linera, serta Senat Presiden Adriana Salvatierra juga telah mengundurkan diri.

Para demonstran turun ke jalan untuk merayakan pengumuman tersebut sambil meneriakkan "ya, kita bisa" dan menyalakan petasan.

Bolivia dilanda aksi unjuk rasa anti-pemerintah selama beminggu-minggu, menyusul laporan tuduhan kecurangan pemilu dalam pemilihan presiden.

Ketegangan pertama kali berkobar pada malam pemilihan presiden setelah hasil penghitungan suara dihentikan sementara selama 24 jam. Hasil akhir menunjukkan bahwa Morales unggul 10% suara lebih--angka yang dibutuhkannya untuk langsung menang di putaran pertama pemilu.

Setidaknya tiga orang tewas dalam bentrokan yang terjadi kemudian. Beberapa petugas polisi berseragam juga bergabung dengan para demonstran.

Seorang wali kota di Bolivia bernama Patricia Arce bahkan diseret di jalanan tanpa alas kaki, disiram dengan cat merah, dan rambutnya dicukur paksa oleh para demonstran anti-pemerintah, setelah dituduh mengerahkan pasukan pendukung presiden untuk membubarkan unjuk rasa dan berperan dalam kematian dua pengunjuk rasa.

Pada hari Minggu (10/11/2019), Organisasi Negara-negara Bagian Amerika, yang mengawasi jalannya pemilu, mengatakan bahwa mereka telah menemukan bukti manipulasi data skala besar, dan tidak dapat mengesahkan hasil penghitungan suara sebelumnya.

Tekanan terus bertambah terhadap Morales sepanjang hari, seiring mulai mundurnya sejumlah sekutu politiknya. Beberapa di antara mereka khawatir akan keselamatan keluarga masing-masing.

Panglima militer, Jenderal Williams Kaliman, juga mendesak Morales agar mundur "untuk memungkinkan proses pengamanan dan menjaga stabilitas".

Pihak militer juga mengatakan bahwa mereka akan melakukan operasi untuk "menetralisir" setiap kelompok bersenjata yang menyerang para demonstran. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x