Find and Follow Us

Kamis, 14 November 2019 | 21:32 WIB

Panel Pemakzulan Minta Pembantu Trump Bersaksi

Rabu, 6 November 2019 | 08:00 WIB
Panel Pemakzulan Minta Pembantu Trump Bersaksi
Kepala staf Gedung Putih, Mick Mulvaney - (Foto: AFP)
facebook twitter

INILAHCOM, Washington DC--Sejumlah komisi DPR AS yang memimpin penyelidikan pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump mengatakan ingin menanyai pejabat sementara kepala staf Gedung Putih, Mick Mulvaney mengenai pengetahuannya terkait upaya Trump untuk menekan Ukraina agar membuka penyelidikan guna membantunya secara politis.

Komisi Hubungan Luar Negeri, Intelijen dan Pengawasan DPR mengatakan meminta Mulvaney untuk memberikan kesaksian pada hari Jumat (8/11/2019), meskipun belum jelas apakah ia akan hadir pada pertemuan tertutup di DPR. Demikian VOA, Rabu (6/11/2019).

Trump berusaha--sebagian berhasil--menghalangi pembantu pentingnya bersaksi tentang tindakannya yang melibatkan negara Eropa timur, meskipun pejabat diplomatik dan keamanan nasional lainnya telah menjawab pertanyaan penyelidik pemakzulan.

"Berdasarkan bukti yang dikumpulkan dalam penyelidikan pemakzulan dan pelaporan publik, kami yakin Anda memiliki pengetahuan dan informasi langsung yang relevan dengan penyelidikan pemakzulan DPR," kata komisi-komisi itu kepada Mulvaney dalam sebuah surat.

Para penyelidik pemakzulan yang dipimpin Partai Demokrat mengatakan kepada Mulvaney bahwa penyelidikan "telah mengungkapkan bahwa Anda mungkin terlibat langsung dalam upaya yang diatur oleh Presiden Trump, agen pribadinya, Rudolph Giuliani, dan lainnya untuk menahan bantuan keamanan hampir US$ 400 juta untuk menekan (Ukraina) agar melakukan penyelidikan yang akan menguntungkan kepentingan politik pribadi Presiden Trump."

Mulvaney adalah pejabat tertinggi Gedung Putih yang ingin ditanya oleh panel pemakzulan.

Permintaan kepada Mulvaney itu disampaikan ketika panel pemakzulan merilis transkrip keterangan dua saksi lagi yang bersaksi dalam sidang tertutup bulan lalu: Kurt Volker, mantan utusan AS untuk Kyiv, dan Gordon Sondland, diplomat penting AS di markas Uni Eropa di Brussels. [voa/lat]

Komentar

Embed Widget
x