Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 09:21 WIB

Rusia Cegah Bentrok Pasukan Suriah dan Turki

Rabu, 16 Oktober 2019 | 10:04 WIB
Rusia Cegah Bentrok Pasukan Suriah dan Turki
(Foto: BBC)
facebook twitter

INILAHCOM, Moskow--Rusia menyatakan tidak akan membiarkan bentrokan antara pasukan Turki dan Suriah, tatkala Turki melancarkan serangan di Suriah utara.

"Ini tidak bisa diterima... dan karena itu kita tidak akan membiarkannya, tentu saja," kata utusan khusus Moskow untuk Suriah, Alexander Lavrentyev. Demikian laporan yang dikutip dari BBC, Rabu (16/10/2019).

Rusia adalah sekutu militer utama pemimpin Suriah Bashar al-Assad.

Kementerian pertahanan Rusia mengatakan pasukannya, yang telah dikerahkan di Suriah sejak 2015, berpatroli di sepanjang "garis kontak" antara pasukan Suriah dan Turki.

Selama kunjungan ke Uni Emirat Arab, Lavrentyev menyebut serangan Turki "tidak bisa diterima".

Ia mengatakan bahwa berdasarkan perjanjian sebelumnya, Turki hanya boleh masuk sejauh 5-10 km ke Suriah==jauh lebih kecil dari "zona aman" yang diinginkan Ankara--dan bahwa Turki tidak berhak untuk mengerahkan pasukannya di Suriah secara permanen. Suriah melakukan kontak dengan Turki untuk menghindari konflik, ujarnya.

Lavrentyev juga menegaskan bahwa Rusia telah menjadi penengah untuk membantu membuat kesepakatan antara Kurdi dan Damaskus yang memungkinkan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi menyerahkan wilayah kepada pasukan pemerintah Suriah dengan imbalan dukungan militer.

Serangan Turki, yang dimulai minggu lalu, bertujuan untuk mendepak SDF yang dipimpin Kurdi dari wilayah perbatasan. Turki menganggap milisi terbesar di SDF sebagai organisasi teroris.

Pemerintah Turki ingin menciptakan "zona aman" di wilayah itu, tempat mereka dapat memukimkan kembali pengungsi Suriah yang saat ini tinggal di Turki.

Banyak dari para pengungsi tersebut bukan orang Kurdi, dan pengamat memperingatkan langkah ini bisa mengarah pada pembersihan etnis penduduk Kurdi setempat.

Puluhan warga sipil telah tewas dalam operasi militer sejauh ini dan sedikitnya 160.000 telah meninggalkan daerah itu, menurut PBB.

Pasukan yang dipimpin Kurdi merupakan sekutu utama AS dalam perang melawan kelompok Negara Islam (ISIS) di Suriah. Mereka menyebut penarikan AS, yang mendahului tindakan Turki, sebagai "menusuk dari belakang". [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x