Find and Follow Us

Sabtu, 19 Oktober 2019 | 02:19 WIB

Permaisuri Malaysia Dihina, Polisi Tangkap Aktivis

Minggu, 15 September 2019 | 20:17 WIB
Permaisuri Malaysia Dihina, Polisi Tangkap Aktivis
Raja Permaisuri Agong bersama suaminya - (Foto: bbci)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta--Permaisuri Malaysia kembali ke Twitter untuk menyatakan kekecewaan kepada polisi karena menangkap orang-orang yang diduga menghina dirinya di media sosial, lapor BBC, Minggu (15/9/2019).

Sang Raja Permaisuri Agong mengatakan ia dan raja tidak pernah meminta polisi untuk bertindak, dan ia sangat kesal mendengar kabar tersebut.

Hal itu diungkapkan sang permaisuri setelah polisi menangkap seorang aktivis di kota Klang pada Jumat lalu karena dituduh mengirimkan postingan yang menghina.

Raja Permaisuri Agong diduga pertama kali menghapus akunnya pada hari Rabu.

Langkah tersebut membuat ribuan warga Malaysia mendesaknya untuk mempertimbangkan kembali dan terus mengunggah kabar terbaru.

Raja Permaisuri Agong--nama lengkap Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah Sultan Iskandar--adalah istri kepala negara Malaysia saat ini.

Malaysia memiliki sistem monarki konstitusional yang tidak biasa, di mana jabatan puncaknya dirotasi antara sembilan keturunan penguasa setiap lima tahun.

Dalam serangkaian twit yang sekarang telah dihapus, Raja Agong Permaisuri mengatakan ia awalnya meninggalkan Twitter karena alasan pribadi.

"Saya benar-benar kesal karena polisi telah menahan orang-orang itu. Selama bertahun-tahun, saya dan suami tidak pernah membuat laporan polisi tentang komentar-komentar buruk tentang kami," tulisnya, seperti dilaporkan surat kabar Straits Times.

"Ini negara bebas," tambahnya.

Ia mengaktifkan kembali akun Twitternya setelah mendengar tentang penangkapan itu karena merasa "marah dan kesal".

"Saya sendiri mengatakan kepada Pihak Istana untuk berkata kepada polisi agar tidak mengambil tindakan apa pun. Saya ulangi lagi, saya tidak menonaktifkan akun saya karena mereka," katanya.

"Suami saya dan saya tidak pernah membuat laporan polisi, dan saya tidak pernah sedih (ketika saya membaca komentar tentang saya); sebaliknya, saya tertawa karena Allah tahu siapa saya!" ia menambahkan.

Pada Jumat malam, Khalid Ismath, anggota partai Parti Socialis Malaysia (PSM), ditangkap karena diduga telah mengunggah pesan-pesan yang menghina permaisuri.

Ia dijerat dengan undang-undang penghasutan 1948--yang sudah lama dikritik oleh oposisi politik dan kelompok hak asasi kemudian terpaksa bermalam di kantor polisi sebelum dibebaskan dengan jaminan pada hari Sabtu.

Kalangan pengacara dan kelompok pegiat hak asasi mengkritik penangkapan Ismath. Sevan Doraisamy, kepala kelompok HAM setempat Suaram, mengatakan langkah tersebut "tidak lebih merupakan intimidasi" oleh polisi.

Wakil ketua PSM S. Arutchelvan mengatakan kepada Straits Times bahwa penangkapan tersebut tidak perlu dan mengatakan Ismath membantah telah menghina permaisuri.

Sebelum muncul kembali di Twitter untuk sebentar saja, Permaisuri mengirim pesan di Instagram bahwa ia meninggalkan Twitter karena alasan pribadi dan bukan karena merasa tersinggung dengan apa yang ditulis orang tentangnya.

Ia juga mendesak orang-orang agar tidak melaporkan komentar-komentar yang dipandang menyinggung itu ke polisi.

Kiriman Instagram-nya dibagikan di Twitter oleh putrinya.

Raja Permaisuri Agong dikritik di media sosial selama perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia pada tanggal 31 Agustus karena mengambil banyak foto. Beberapa orang menyebutnya "berperilaku seperti anak kecil", menurut surat kabar Malaysia Star.

Tapi ia menjawab bahwa raja telah memintanya untuk mengambil gambar.[bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x