Find and Follow Us

Selasa, 17 September 2019 | 08:01 WIB

Kampung-kampung Rohingya Dihancurkan di Myanmar

Selasa, 10 September 2019 | 10:20 WIB
Kampung-kampung Rohingya Dihancurkan di Myanmar
Kamp transit Hla Phoe Khaung - (Foto: BBC)
facebook twitter

INILAHCOM, Rakhine--Seluruh perkampungan warga Muslim Rohingya di Myanmar telah dihancurkan dan digantikan dengan barak-barak polisi, bangunan pemerintahan, serta kamp relokasi pengungsi, demikian hasil temuan BBC seperti dilaporkan, Selasa (10/9/2019).

Dalam tur bersama pemerintah Myanmar, BBC mengunjungi empat lokasi di mana sejumlah fasilitas dibangun di atas lahan yang berdasarkan gambar satelit sebelumnya merupakan kawasan permukiman warga Rohingya.

Pejabat setempat membantah pembangunan di atas kampung-kampung Rohingya di negara bagian Rakhine.

Pada 2017, lebih dari 700.000 warga Rohingya meninggalkan Myanmar saat berlangsung operasi militer.

PBB menggambarkan peristiwa itu sebagai "pembersihan etnis". Myanmar (yang juga disebut Burma) telah membantah aksi pembantaian besar-besaran oleh pasukannya.

Myanmar, negara mayoritas pemeluk agama Buddha, terus menyangkal pasukannya melakukan pembersihan etnis dan genosida. Sekarang negara itu mengatakan mereka siap menerima kembali beberapa pengungsi.

Akan tetapi, pada bulan lalu, upaya untuk mulai merepatriasi pengungsi Rohingya kembali gagal, setelah tak satu pun dari 3.450 orang yang disetujui Myanmar menaiki kendaraan yang telah disiapkan untuk mereka.

Mereka berdalih kurangnya pertanggungjawaban pemerintah atas aksi kejam yang terjadi pada 2017, dan ketidakpastian tentang apakah mereka akan mendapatkan kebebasan bergerak atau status kewarganegaraan.

Myanmar menyalahkan Bangladesh. Myanmar juga mengatakan bahwa mereka telah mempersiapkan diri untuk menerima kembali banyak pengungsi.

Untuk menunjukkannya, pemerintah Myanmar mengundang wartawan, termasuk BBC, untuk melihat fasilitas mereka.

Akses menuju Rakhine biasanya sangat terbatas. Kami pergi ke sana bersama konvoi pemerintah, dan tidak diperkenankan untuk merekam video maupun mewawancarai orang di sana tanpa pengawasan polisi.

Namun kami dapat melihat dengan jelas bukti penghapusan komunitas Rohingya yang dilakukan dengan rapi.

Institut Kebijakan Strategis Australia, yang menganalisa foto satelit, memperkirakan setidaknya 40% perkampungan warga Rohingya yang rusak oleh aksi kekerasan pada tahun 2017 telah dihancurkan sepenuhnya.

Pihak pemerintah membawa kami ke kamp transit Hla Poe Kaung, yang dikatakan mampu menampung 25.000 pengungsi yang kembali. Menurut rencana, mereka akan tinggal selama dua bulan di sana sebelum pindah ke permukiman permanen.

Kondisi kamp yang selesai dibangun tahun lalu itu pun buruk, toilet umumnya rusak. Bangunan itu didirikan di atas lahan yang sebelumnya merupakan dua kampung Rohingya, yaitu Haw Ri Tu Lar dan Thar Zay Kone, yang dihancurkan setelah aksi kekerasan tahun 2017.

Penghancuran komunitas Rohingya yang dilakukan secara meluas dan berkelanjutan jauh setelah kampanye kekerasan militer tahun 2017 telah berakhir berarti hanya sedikit pengungsi yang dapat kembali ke kehidupan lama dan komunitas mereka.

Satu-satunya persiapan yang terlihat untuk menerima kembali para pengungsi dalam jumlah besar adalah bangunan-bangunan kamp transit yang bobrok seperti Hla Poe Kaung, dan kamp relokasi seperti Kyein Chaung.

Hanya sedikit pengungsi yang mungkin bisa mengatasi trauma yang mereka rasakan dua tahun lalu untuk masa depan yang seperti itu.

Hal ini memunculkan pertanyaan terkait ketulusan komitmen masyarakat Myanmar untuk menerima mereka kembali.

Secara resmi, pemerintah Myanmar berkomitmen untuk menerima kembali para pengungsi secara bertahap, dengan bekerja sama dengan Bangladesh.

Pemerintah bersedia memberikan mereka Kartu Verifikasi Nasional, yang disebut sebagai langkah menuju status warga negara. Namun kebanyakan warga Rohingya menolak kartu-kartu tersebut karena mereka diharuskan mengidentifikasi diri mereka sebagai warga Bengali. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x