Find and Follow Us

Selasa, 17 September 2019 | 07:30 WIB

Iran Ancam Keluar dari Kesepakatan Nuklir

Selasa, 3 September 2019 | 08:03 WIB
Iran Ancam Keluar dari Kesepakatan Nuklir
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif - (Foto: voa)
facebook twitter

INILAHCOM, Teheran-- Iran akan mengambil langkah tegas dan menjauhkan diri dari kesepakatan nuklir 2015 apabila Eropa tidak bisa menawarkan persyaratan baru pada tenggat waktu akhir minggu ini.

VOA hari Selasa (3/9/2019) mengutip laporan AP memberitakan, juru bicara pemerintah Iran itu, Ali Rabiei menyampaikan pernyataan tersebut saat melakukan perjalanan ke Perancis dan Rusia untuk melakukan pembicaraan pada saat-saat terakhir.

Pernyataan Ali Rabiei itu mempertegas tenggat waktu Jumat (6/9/2019) yang ditetapkan Iran, agar Eropa mencarikan jalan bagi Iran untuk menjual minyak mentahnya di pasar global. Sanksi AS yang diberlakukan Presiden Donald Trump setelah AS menarik diri dari kesepakatan itu setahun yang lalu telah menghentikan penjualan minyak mentah Iran.

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif kini sedang berada di Moskow, sementara deputinya melakukan perjalanan ke Perancis dengan sebuah delegasi ekonomidalam upaya diplomatik yang baru.

Rabiei menggambarkan strategi Iran kepada para jurnalis dalam konferensi pers di Teheran sebagai "komitmen untuk berkomitmen." "Minyak Iran harus dibeli dan uangnya harus bisa dikembalikan kepada Iran," demikian kata Rabiei. "Ini merupakan agenda pembicaraan kami."

Tidak jelas apa syarat-syarat perundingan itu. Teorinya, siapa saja yang dipergoki membeli minyak mentah Iran akan dikenakan sanksi AS dan berpotensi dikeluarkan dari pasar finansial AS.

Iran sudah melampaui batas yang ditetapkan oleh persetujuan nuklir itu.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memberi konfirmasi minggu lalu bahwa stok uranium rendah--yang diperkaya Iran masih melampaui jumlah yang diizinkan oleh apa yang disebut the Joint Comprehensive Plan of Action atau JCPOA, singkatan untuk persetujuan itu.

Badan PBB itu juga mengatakan, Iran masih terus memperkaya uranium sampai 4,5 persen diatas ambang 3,67 persen yang diizinkan.

Uranium yang diperkaya pada tingkat 3,67 persen memadai untuk upaya bertujuan damai dan jauh dibawah tingkat kadar senjata 90 persen. Pada tingkat 4,5 persen, uranium itu bisa menggerakkan reaktor Bushehr, satu-satunya PLTN yang dimiliki negara itu.

Masih belum jelas langkah-langkah apa lagi yang akan dilakukan Iran, dan mungkin itu melibatkan start kembali mesin sentrifugal canggih yang dilarang oleh JCPOA atau melanjutkan peningkatan upaya pengayaan uraniumnya. Iran bersikeras, pihaknya telah mengambil langkah-langkah yang sejauh ini secara mudah bisa dihentikan. [voa/lat]

Komentar

Embed Widget
x