Find and Follow Us

Selasa, 17 September 2019 | 07:48 WIB

Jual Pesawat Tempur ke Taiwan, China Ancam AS

Kamis, 22 Agustus 2019 | 09:09 WIB
Jual Pesawat Tempur ke Taiwan, China Ancam AS
(Foto: BBC)
facebook twitter

INILAHCOM, Beijing--China mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada perusahaan AS yang terlibat dalam penjualan pesawat tempur F-16 ke Taiwan, sekiranya Washington berkeras akan terus melanjutkan penjualan itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang menyerukan agar AS menghentikan penjualan senjata dan mengakhiri kontak militer dengan Taiwan. Demikian laporan yang dikutip dari BBC, Kamis (22/8/2019).

Pemerintah AS telah menyetujui transaksi yang bisa mencapai nilai US$8 miliar (sekitar Rp110 triliun) untuk pembelian 66 pesawat. Ini adalah penjualan terbesar dalam beberapa dekade belakangan.

Transaksi ini terjadi di tengah ketegangan yang terus terjadi antara Washington dan Beijing terkait soal perdagangan kedua negara.

China menganggap Taiwan adalah bagian dari wilayah mereka yang harus bersatu dengan China daratan, jika perlu dengan kekuatan senjata.

Secara rutin, China mengkritik perdagangan senjata antara AS dengan Taiwan, termasuk di antaranya mengutuk penjualan rudal Stinger dan tank senilai US$2,2 miliar bulan lalu.

Badan Kerjasama Pertahanan AS mengumumkan penjualan pesawat tempur ini pada hari Selasa (20/8/2019) sebagai pemberitahuan awal kepada Kongres.

Dalam sebuah pernyataan, mereka mengatakan penjualan ini mencakup 66 unit pesawat tempur F-16, 75 unit mesin General Electric dan berbagai sistem pendukung.

Mereka menambahkan, penjualan ini merupakan kepentingan nasional AS dan akan meningkatkan keamanan dan pertahanan di Taiwan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeru China Geng Shuang sebagaimana dikutip media pemerintah mengatakan penjualan ini melanggar hukum dan hubungan internasional serta kebijakan Satu China. Di bawah kebijakan itu, AS hanya mengakui dan punya hubungan dengan China dan tidak dengan Taiwan.

China akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga kepentingan mereka, kata Shuang, termasuk memberi sanksi pada perusahaan yang terlibat dalam penjualan. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x