Find and Follow Us

Selasa, 17 September 2019 | 07:57 WIB

Ex Presiden Sudan Dituduh Terima Uang dari Saudi

Selasa, 20 Agustus 2019 | 10:14 WIB
Ex Presiden Sudan Dituduh Terima Uang dari Saudi
(Foto: BBC)
facebook twitter

INILAHCOM, Khartoum--Seorang detektif mengatakan di pengadilan di Sudan bahwa mantan Presiden Omar al-Bashir mengaku menerima jutaan dolar dari Arab Saudi.

Bashir diajukan ke pengadilan pada hari Senin (19/8/2019) dengan dakwaan melakukan korupsi. Pengacara mengatakan gugatan tersebut tidak berdasar.

Dia diturunkan pada bulan April setelah selama berbulan-bulan terjadi unjuk rasa yang mengakhiri kekuasaannya selama hampir 30 tahun.

Bulan Juni lalu, jaksa penuntut mengatakan mata uang asing dalam jumlah besar ditemukan di dalam sejumlah karung gandum di rumahnya.

Hari Minggu (18/8/2019), pegiat pro-demokrasi dan pemimpin militer negara itu, yang menjatuhkan Bashir, menandatangani kesepakatan sehingga pemilihan umum dapat dilaksanakan.

Mantan presiden Sudan ini hadir di pengadilan dengan mengenakan pakaian putih dan turban dan duduk di balik jeruji. Dia tidak mengomentari dakwaan itu, lapor kantor berita Reuters.

Pengamanan ketat di luar pengadilan di ibu kota Sudan, Khartoum ketika Bashir tiba, kata para saksi mata.

Bashir dituduh "memiliki mata uang asing, korupsi dan menerima hadiah secara ilegal".

Pada bulan April, penguasa militer Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan mengatakan lebih dari US$113 juta atau Rp1,6 triliun uang kontan dalam mata uang pound Sudan dan mata uang asing disita di rumah Bashir.

Di bulan Juni, Omar al-Bashir terlihat di depan umum untuk pertama kalinya di luar kantor kejaksaan di Khartoum.

Tim pembela mantan presiden tersebut menolak seluruh dakwaan.

Pemimpin yang digulingkan tersebut dijadwalkan diadili pada bulan Juli, tetapi sidang kemudian ditunda karena alasan keamanan.

Pada bulan Mei, jaksa menuntut Bashir melakukan penghasutan dan terlibat dalam pembunuhan para pengunjuk rasa.

Gugatan tersebut terkait dengan terbunuhnya seorang dokter pada unjuk rasa yang mengakhiri kekuasaan Bashir pada bulan April.

Dokter tersebut sedang merawat demonstran yang terluka di rumahnya di Khartoum, ketika polisi menembakkan gas air mata ke gedung.

Saksi mata mengatakan kepada BBC bahwa dokter tersebut ke luar dengan mengangkat tangannnya ke atas dan mengatakan kepada polisi bahwa dirinya seorang dokter, tetapi dia tetap ditembak.

Pengadilan Bashir akan dipandang sebagai ujian apakah penguasa baru dapat mengatasi dugaan kejahatan yang dilakukan rezim sebelumnya.

Pada hari Sabtu lalu (17/8/2019), dewan militer Sudan yang mengambil alih kekuasaan setelah Bashir diturunkan, dan aliansi oposisi sipil menandatangani kesepakatan pembagian kekuasaan.

Persetujuan tersebut menciptakan dewan pemerintah baru, terdiri dari kelompok sipil dan para jenderal, untuk merintis jalan bagi dilaksanakannya pemilihan umum dan pemerintahan sipil.

Mohamed Hamdan "Hemeti" Dagolo, yang dipandang umum sebagai orang paling berkuasa di Sudan, berjanji akan mematuhi kesepakatan.

Para anggota dewan kedaulatan baru dijadwalkan mengucapkan sumpah jabatan pada hari Senin, tetapi upacara ditunda selama 48 jam atas permintaan pegiat pro-demokrasi, lapor kantor berita Reuters yang mengutip pernyataan juru bicara militer. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x