Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 01:10 WIB

China ke Demonstran Hong Kong: Jangan Main Api

Rabu, 7 Agustus 2019 | 15:28 WIB
China ke Demonstran Hong Kong: Jangan Main Api
(Foto: bbc)


INILAHCOM, Beijing--Pemerintah China mengeluarkan peringatan keras terhadap para pengunjuk rasa Hong Kong, dengan menyatakan bahwa upaya mereka "bermain api hanya akan jadi bumerang".

Seorang juru bicara kantor kebijakan utama urusan Hong Kong di China mengatakan kepada para demonstran untuk tidak "meremehkan tekad bulat pemerintah pusat". Demikian BBC melaporkan, Rabu (7/8/2019).

Hong Kong diwarnai aksi unjuk rasa anti-pemerintahan selama sembilan pekan berturut-turut.

Pada hari Senin (6/8/2019), seruan mogok massal menyebabkan kekacauan, di mana lebih dari 200 jadwal penerbangan dibatalkan.

Para demonstran menuntut sejumlah hal, di antaranya digelarnya penyelidikan independen terhadap dugaan aksi kekerasan polisi, penarikan sepenuhnya rancangan undang-undang ekstradisi yang kontroversial, dan pengunduran diri pemimpin Hong Kong, Carrie Lam.

Demonstrasi yang dilakukan seringkali berakhir dengan bentrokan dengan polisi. Para pengunjuk rasa dianggap menjadi tantangan Pemerintah China di kawasan tersebut--sekaligus sebagai cerminan betapa banyaknya warga Hong Kong yang khawatir kebebasan mereka tengah dikikis.

Bekas koloni Inggris itu adalah bagian dari China, namun mereka memiliki kebebasan unik yang tidak berlaku di China daratan.

Demonstrasi radikal yang terjadi telah mendorong Hong Kong ke ambang situasi yang sangat berbahaya, kata Yang Guang, juru bicara Kantor Urusan Hong Kong dan Makau (HKMAO).

Ia memperingatkan para pengunjuk rasa untuk tidak "keliru mengartikan sikap menahan diri sebagai bentuk kelemahan".

Upaya untuk memaksa Lam mundur dari jabatannya tak akan berhasil, ujarnya sambil menambahkan bahwa aksi demonstrasi telah mengakibatkan "dampak serius" terhadap perekonomian Hong Kong.

Ini adalah salah satu peringatan paling keras dari Beijing selama unjuk rasa terjadi. HKMAO sangat jarang menggelar konferensi pers di Hong Kong - namun ini menjadi kali kedua mereka menggelarnya dalam dua pekan terakhir.

Guang mengatakan bahwa pasukan "radikal dan keras" berada di garis depan unjuk rasa, sementara "beberapa warga yang disesatkan namun berniat baik" terjebak di tengah-tengah.

Ia menuduh "pasukan anti-China" dari Barat dan "campur tangan di belakang layar" sebagai dalang kerusuhan.

Sebagai contoh, ia mengutip Ketua DPR AS Nancy Pelosi yang mengatakan bahwa unjuk rasa tersebut "sebuah pemandangan yang indah untuk dilihat", dan mantan menteri luar negeri Inggris Jeremy Hunt yang mendorong agar dilakukan penyelidikan terhadap penggunaan kekerasan oleh kepolisian Hong Kong.

Meski demikian, politisi pro-demokrasi, Lam Cheuk-ting, mengatakan kepada BBC bahwa tidak ada "kekuatan dari luar" di belakang demonstrasi yang terjadi.

"Ini bukan gerakan yang diorganisir oleh pemerintahan asing, tetapi rakyat Hong Kong secara sukarela," ujarnya.

Para pengamat mengatakan bahwa unjuk rasa tersebut sebagian besar muncul tanpa dipimpin siapa pun dan tidak dapat diprediksi, serta melibatkan pembangkangan sipil gaya "flash mob" dan urun suara melalui aplikasi media sosial. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x