Find and Follow Us

Selasa, 17 September 2019 | 07:12 WIB

Ini Jaringan Korupsi Afrika Selatan

Selasa, 16 Juli 2019 | 11:59 WIB
Ini Jaringan Korupsi Afrika Selatan
Jacob Zuma - (Foto: BBC)
facebook twitter

INILAHCOM, Cape Town-- Mantan presiden Afrika Selatan Jacob Zuma menyanggah bahwa ia mengendalikan jaringan korupsi saat menjabat selama sembilan tahun termasuk melalui jaringan keluarga asal India, Gupta.
Zuma tampil untuk pertama kalinya di depan komisi yang dibentuk untuk menyelidiki tuduhan "menguasai negara" dengan korupsi saat dirinya masih berkuasa.
Ia dipaksa mundur sebagai presiden pada Februari 2018 dan diganti oleh wakilnya Cyril Ramaphosa yang berjanji untuk menangani korupsi di Afrika Selatan.
Ramaphosa menggambarkan masa kekuasaan Zuma sebagai "terbuang."
"Saya difitnah, dan disebut sebagai raja rakyat yang korup," kata Zuma kepada komisi yang dipimpin oleh Hakim Ray Zondo.
"Saya diejek dan saya tak pernah menanggapi isu itu," tambahnya.
"Menguasai negara" menjadi istilah populer yang mengacu kepada sejumlah skandal pada pemerintahan Zuma yang pada akhirnya menggulingkannya.
Tuduhan terhadap Zuma berpusat pada hubungannya dengan keluarga Gupta, yang dituduh mempengaruhi penunjukan menteri dan memenangkan tender negara melalui korupsi.
Mereka semua menyanggah tuduhan itu.
Keluarga Gupta memiliki sejumlah perusahaan yang mendapatkan berbagai proyek dari kementerian pemerintah Afrika Selatan dan konglomerat pemerintah.
Mereka juga merekrut sejumlah anggota keluarga Zuma--termasuk anak laki-laki presiden, Duduzane.
Pejabat pemerintah berbagai badan pemerintah mengatakan mereka diperintah langsung keluarga Gupta agar mengambil keputusan untuk mengembangkan kepentingan bisnis mereka.
Institusi pemerintah yang mengikuti permintaan diganjar dengan uang dan promosi, sementara mereka yang tak patuh dipecat.
Kakak adik, Ajay, Atul dan Rajesh Gupta, berusia sekitar 40-an dan mereka pindah ke Afrika Selatan dari negara bagian Uttar Pradesh, India pada 1993.
Saat ini, minoritas kulit putih berakhir kekeuasaannya dan Afrika Selatan mulai membuka diri.
Juru bicara keluarga Haranath Ghosh mengatakan kepada BBC melalui email bahwa ayah kakak beradik itu, Shiv Kumar Gupta, mengirim Atul ke Afrika Selatan karena percaya Afrika akan menjadi "Amerika" bagi dunia, karena banyak peluang.
Saat Atul tiba, ia mendirikan bisnis komputer, Sahara, dan ia terkejut karena tak banyak birokrasi saat itu.
Mereka saat itu merupakan pengusaha kecil namun induk perusahaan Sahara Group, saat ini memiliki kekayaan sekitar US$22 juta dengan karyawan 10.000 orang.
Selain komputer mereka juga membuka usaha pertambangan, penerbangan, energi, teknologi dan media.
Atul mengatakan dia bertemu Presiden Zuma lebih dari 10 tahun lalu saat "Zuma menjadi tamu di salah satu acara perusahaanya".
Apakah mereka "menguasai negara?"
Keluarga ini dituduh mendapatkan pengaruh kekuasaan politik besar di Afrika Selatan dan para kritikus menuduh mereka mencoba "menguasasi negara" untuk kepentingan bisnis.
Dugaan itu muncul pada Maret 2016 saat Wakil Menteri Keuangan, Mcebisi Jonas, mengatakan salah seorang anggota keluarga menawarkan promosi menjadi menteri pada 2015.
Keluarga Gupta menyanggah memberi tawaran itu dan menyangkal tuduhan serupa lainnya.
Keluarga Gupta jarang menyampaian pernyataan di depan publik.
Meski begitu, dalam wawancara dengan pengacaranya tahun lalu, Ajay Gupta mengatakan ia tak memiliki saham atau aset perusahaan yang dimaksud.
"Saya tak punya saham, tak punya jabatan, properti, harta tak bergerak...," katanya. "Mungkin ada satu mobil, saya punya ruangan yang biasanya dipakai ayah untuk tidur."
Pada Agustus 2016, keluarga Gupta mengatakan mereka menjual semua saham di Afrika Selatan karena langkah ini adalah "yang terbaik bagi Afrika Selatan dan bagi kolega mereka".
Namun tetap saja, keputusan ini tidak serta-merta membuat mereka tak lagi menjadi sorotan publik. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x