Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 02:00 WIB

Memanas, Marinir Inggris Sita Tanker Iran

Jumat, 5 Juli 2019 | 09:22 WIB
Memanas, Marinir Inggris Sita Tanker Iran
Marinir Inggris menaiki kapal tanker Grace 1. - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta--Sebanyak 30 personel marinir Inggris dari unit 42 Commando menyita kapal tanker Iran saat sedang berlayar di perairan Gibraltar. Demikian laporan BBC, Jumat (5/7/2019).

Marinir Inggris membantu pihak berwenang di Gibraltar menyita kapal tersebut beserta kargonya pada Kamis (4/7/2019) waktu setempat karena bukti-bukti menunjukkan kapal itu tengah menuju Suriah sehingga melanggar rangkaian sanksi Uni Eropa.

Pelaksana tugas Menteri Luar Negeri Spanyol menyebut penyitaan kapal bernama Grace 1 itu dilakukan atas permintaan Amerika Serikat.

BBC mendapat informasi bahwa sebuah tim beranggotakan 30 personel marinir dari unit 42 Commando diterbangkan dari Inggris ke Gibraltar untuk membantu setelah mendapat permintaan dari Pemerintah Gibraltar.

Beberapa personel marinir yang menaiki kapal berbendera Panama itu diturunkan dari sebuah helikopter menggunakan tali, sedangkan lainnya merapat dengan perahu cepat. Tidak ada peluru yang ditembakkan dalam kejadian tersebut.

Sebuah sumber dari bidang pertahanan Inggris menggambarkannya sebagai "operasi yang relatif tenang" tanpa insiden besar.

Akan tetapi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi, belakangan menyatakan Dubes Inggris di Teheran, Robert Macaire, dipanggil terkait "penyitaan ilegal" kapal tanker.

Saat diwawancara stasiun televisi Iran, Channel Two, Mousavi menjelaskan penyitaan itu merupakan "bentuk pembajakan" yang tidak punya dasar hukum dan dalil internasional. Dia menyerukan agar kapal tanker itu segera dilepaskan guna melanjutkan pelayaran.

Ditambahkannya, "langkah itu mengindikasikan Inggris mengikuti kebijakan bermusuhan AS, yang tidak diterima bangsa dan pemerintah Iran".

Koresponden BBC bidang pertahanan, Jonathan Beale, mengatakan bahwa walaupun Inggris mengisyaratkan operasi itu dipimpin pemerintah Gibraltar, tampaknya informasi intelijen datang dari AS.

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih, John Bolton, menanggapi peristiwa penyitaan itu sebagai "kabar sangat baik". Dia menyebutkan kapal tanker itu sedang menuju Suriah dan melanggar rangkaian sanksi UE.

Dia menambahkan, AS dan sekutu-sekutunya akan terus mencegah rezim di Teheran dan Damaskus "memperoleh untung dari perdagangan gelap ini".

Menurut Menlu Inggris, Jeremy Hunt, aksi cepat aparat Gibraltar dan marinir Inggris mencegah sumber daya alam yang berharga berpindah tangan ke Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Gibraltar menyatakan punya alasan untuk meyakini kapal itu membawa minyak mentah Iran menuju Kilang Baniyas di Kota Tartus, Suriah.

Kilang itu dikelola Perusahaan Pengolahan dan Distribusi Produk Minyak yang bernaung di bawah Kementerian Perminyakan Suriah.

Fasilitas itu, menurut UE, menyediakan sokongan keuangan untuk pemerintah Suriah yang menindas warga sipil sejak pemberontakan terhadap Presiden Al-Assad pada 2011. Karenanya, fasilitas tersebut disasar beragam sanksi UE sejak 2014. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x