Find and Follow Us

Senin, 22 Juli 2019 | 20:50 WIB

Dunia Kecam Kematian Mohammed Morsi

Selasa, 18 Juni 2019 | 08:50 WIB
Dunia Kecam Kematian Mohammed Morsi
Sebagian umat Islam menggelar salat jenazah Mohammed Morsi di Masjid Al-Aqsa, Jerusalem, - (Foto: BBC)

INILAHCOM, Kairo-- Mantan Presiden Mesir, Mohammed Morsi meninggal dunia pada usia 67 tahun setelah pingsan di balik kerangkeng terdakwa dalam ruang sidang di Kairo pada Senin (17/6/2019), kata para pejabat Mesir, seperti dilaporkan BBC, Selasa (18/6/2019).

Berbagai reakasi muncul atas kematiannya. Partai Kebebasan dan Keadilan, yang memiliki kedekatan dengan organisasi yang kini dilarang, Ikhwanul Muslimin, mengatakan kematian Morsi identik dengan "pembunuhan", dan mendesak para pendukungnya berkumpul selama proses pemakaman dan berdemonstrasi di luar kedutaan besar Mesir di seluruh dunia.

"Mereka menempatkannya di ruangan tahanan khusus yang terisolasi selama penahanannya yang melebihi lima tahun, lalu menghalang-halangi pemberian obat-obatan dan menyediakan makanan yang buruk ... Mereka mencegah dokter dan pengacaranya dan bahkan mencegahnya berkomunikasi dengan keluarganya. Mereka merampas hak asasi manusia yang paling sederhana."

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang merupakan sekutu terdekatnya, menyalahkan pemerintah "tiran" Mesir atas kematian Morsi, sementara Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, yang merupakan sekutu terdekat lainnya, menyatakan "kesedihan mendalam".

Crispin Blunt, anggota parlemen Inggris dari Partai Konservatif, yang sebelumnya telah memperingatkan tentang kondisi kesehatan Morsi, menyerukan "penyelidikan internasional yang independen dan terkemuka", dan mengatakan pemerintah Mesir bertanggungjawab "untuk menjelaskan kematian Morsi".

Wakil direktur organisasi Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Magdalena Mughrabi mengatakan: "(Morsi) ditahan di sel isolasi selama hampir enam tahun, yang berdampak besar atas kesehatan mental dan fisiknya ... Dia secara efektif terputus dari dunia luar."

Direktur Human Rights Watch untuk Timur Tengah, Sarah Leah Whitson, mengatakan bahwa kematian Morsi "mengerikan tetapi sepenuhnya dapat diprediksi".

Siapakah Mohammed Morsi?

Morsi lahir di desa El-Adwah Provinsi Sharqiya di kawasan Delta Nil pada tahun 1951. Ia mendalami teknik sipil di Universitas Kairo pada tahun 1970-an sebelum pindah ke Amerika Serikat untuk merampungkan studi tingkat doktoral.

Ia dipilih sebagai kandidat presiden dari Ikhwanul Muslimin dalam pemilihan Mesir tahun 2012 setelah pilihan pertama yang ingin diusung organisasi itu mengundurkan diri.

Morsi menang dengan selisih suara tipis dan berjanji memimpin pemerintahan "bagi seluruh rakyat Mesir".

Namun para penentangnya mengatakan Morsi gagal memerintah selama masa kekuasaan yang bergolak. Mereka menuduhnya membiarkan kelompok-kelompok berhaluan Islam mendominasi arena politik dan salah urus ekonomi.

Penentangan warga terhadap pemerintahannya bertambah besar dan jutaan orang turun ke jalan-jalan di seluruh Mesir untuk menggelar aksi bertepatan dengan peringatan satu tahun kekuasaan Morsi pada tanggal 30 Juni 2013.

Pada tanggal 3 Juli malam, militer membekukan sementara konstitusi dan mengumumkan pembentukan pemerintahan interim yang diisi oleh para teknokrat sebelum digelar pemilihan presiden baru.

Morsi menyebut langkah tersebut sebagai kudeta dan ia kemudian ditahan oleh militer.

Sejak digulingkan, ia masuk tahanan dan menjalani hukuman penjara selama tujuh tahun dalam kasus pemalsuan permohonan pencalonan presiden tahun 2012.

Di bawah pemerintahan yang sekarang, Morsi menghadapi berbagai dakwaan termasuk spionase. Pihak berwenang juga menyasar para pendukungnya dan menggolongkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Kasus mata-mata itu dikaitkan dengan kontaknya dengan kelompok militan Palestina, Hamas. [bbc/lat]

Komentar

x