Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 02:09 WIB

China-Rusia Bermesraan, AS Mungkin Jengkel

Jumat, 7 Juni 2019 | 12:06 WIB
China-Rusia Bermesraan, AS Mungkin Jengkel
(Foto: bbc)

INILAHCOM, Jakarta--China dan Rusia semakin mesra setelah tiga hari kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Moskow. Jinping menggambarkan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai "teman baik".

Kunjungan Presiden China ke Rusia itu dilakukan di tengah memburuknya hubungan China dengan Amerika Serikat (AS) karena perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Rusia sendiri telah memutuskan untuk berpaling ke Timur sejak hubungan mereka dengan negara-negara Barat memburuk sesudah konflik di Ukraina.

Putin dan Jinping menandatangani paket kerjasama perdagangan serta melakukan serah terima dua ekor panda yang diberikan untuk Kebun Binatang Moskow.

Jinping tiba Rabu (5/6/2019) di Moskow dan memberikan pernyataan kepada wartawan bahwa ia memiliki "hubungan pertemanan pribadi" dengan Putin.

"Dalam enam tahun terakhir, kami bertemu hampir 30 kali. Rusia adalah negara yang paling sering saya kunjungi dan Presiden Putin adalah teman dekat dan kolega saya," kata Xi Jinping.

Putin menanggapi ucapan Xi Jinping dengan mengatakan,"Dengan senang hati saya sampaikan bahwa hubungan Rusia dan China telah mencapai tingkat yang belum pernah dicapai sebelumnya. Ini merupakan kemitraan global dan kerjasama yang strategis".

Aliansi antara kedua negara meningkat sejak Moskow dan Beijing merasa diasingkan oleh negara-negara Eropa, terutama oleh AS.

Hubungan Moskow dengan negara Barat memburuk ketika Rusia diberi sanksi lantaran keterlibatan mereka di konflik Ukraina lima tahun lalu. Rusia juga dikritik karena membantu rezim Assad di Suriah tahun 2015.

Hubungan China sendiri dengan AS memburuk sejak pemerintahan Donald Trump berpaling dari globalisasi ekonomi demi menganut kebijakan proteksionis terhadap ekonomi nasional mereka.

China dan AS masih terus terlibat dalam perang dagang dengan saling membalas dalam pengenaan tarif.

Menurut para pengamat, karena sama-sama mengalami penolakan dari Barat, China dan Rusia kemudian mendekat, baik dalam kerjasama ekonomi dan militer.

Hubungan perdagangan kedua negara di tahun 2018 meningkat 25%, mencapai rekor US$ 108 miliar, menurut catatan Kremlin.

Dalam kunjungan Xi Jinping ke ke Moskow, kedua pihak sepakat untuk memperdalam kerjasama militer dan ekonomi di masa depan.

Salah satu kesepakatan bisnis yang mencolok adalah: perusahaan telekomunikasi Rusian MTS akan mengizinkan perusahaan teknologi raksasana China Huawei untuk membangun jaringan 5G di Rusia.

AS menyatakan Huawei berbahaya bagi keamanan nasional, kemudian melarang perusahaan AS bekerjasama dengan perusahaan China tersebut.

Larangan AS ini kemudian berdampak pada kegiatan bisnis Huawei di Eropa, Australia dan Jepang.

Kunjungan ini tidak sepenuhnya berisi pembicaraan pertahanan dan perdagangan. Diplomasi juga dilakukan oleh China melalui panda.

Di Kebun Binatang Moskow, Xi Jinping menyerahkan dua ekor panda yang dibawa ke Rusia sejak bulan April lalu, yang akan menjadi pengingat bagi kunjungan ini.

Sesudah resepsi di Kremlin dan kunjungan menonton teater Bolshoi, Xi Jinping dijadwalkan untuk bertolak ke Saint Petersburg untuk menghadiri Saint Petersburg Economic Forum. [bbc/lat]


Komentar

Embed Widget
x