Find and Follow Us

Kamis, 22 Agustus 2019 | 01:28 WIB

Divonis Seumur Hidup

Perawat Jerman Bunuh 85 Pasien

Jumat, 7 Juni 2019 | 09:44 WIB
Perawat Jerman Bunuh 85 Pasien
Niels Hoegel - (Foto: voanews)

INILAHCOM, Oldenburg--Hakim Sebastian Buehrmann di Pengadilan Oldenburg, Jerman menjatuhkan hukuman seumur hidup terhadap Niels Hoegel, seorang perawat yang membunuh 85 pasien rumah sakit yang berada dalam perawatannya. Dia diyakini sebagai pembunuh dengan jumlah korban terbanyak dalam sejarah pasca perang Jerman.

Hakim Sebastian Buehrmann menyebut pembunuhan yang dilakukan oleh Niels Hoegel itu sebagai "tidak bisa dipahami," kantor berita AFP melaporkan.

Perawat pria berusia 42 tahun itu memilih korbannya secara acak. Lalu, dia membunuh mereka dengan suntikan mematikan antara 2000 dan 2005, saat dia akhirnya tertangkap basah.

Hoegel sudah menghabiskan satu dasawarsa dalam tahanan menyusul vonis hukuman penjara seumur hidup yang sebelumnya dia terima untuk enam pembunuhah lainnya.

Untuk membangun gugatan atas kasus tersebut, diperlukan penggalian dan autopsi lebih dari 130 jenazah.

Polisi menduga jumlah akhir korban yang tewas di tangan Hoegel mencapai lebih dari 200.

Namun pengadilan tidak bisa memastikan karena ada kesenjangan pada ingatan Hoegel dan karena banyak kemungkinan sudah dikremasi sebelum bisa dilakukan autopsi.

Hakim Buerhman dari pengadilan negeri Kota Oldenburg mengatakan jumlah kematian di tangan Hoegel "melebihi imajinasi manusia." Dia juga mengungkapkan penyesalannya tidak bisa "sepenuhnya menyibak tabir" untuk para kerabat dari orang-orang yang mungkin menjadi korban Hoegel.

Pada hari terakhir persidangannya, Hoegel meminta keluarga para korbannya untuk memaafkan "tindakannya yang mengerikan."

"Saya dengan tulus ingin minta maaf atas segala yang saya perbuat terhadap Anda selama bertahun-tahun," kata Hoegel.

Tertangkap basah pada 2005 saat sedang menyuntikkan obat yang tidak diresepkan kepada seorang pasien di Delmenhorst, Hoegel divonis tujuh tahun penjara untuk percobaan pembunuhan pada 2008.

Persidangan kedua menyusul pada 2014-2015 setelah banyak tekanan dari para keluarga korban. [voa/lat]

Komentar

Embed Widget
x