Find and Follow Us

Jumat, 23 Agustus 2019 | 13:27 WIB

Trump Membakar Harga Minyak

Rabu, 24 April 2019 | 07:56 WIB
Trump Membakar Harga Minyak
(Foto: BBC)

INILAHCOM, Jakarta--Presiden AS Donald John Trump, memang menjadi momok yang menakutkan bagi dunia. Belum beres berkelahi dengan China, eh si kakek berusia 72 tahun ini sudah mengancam China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Turki yang masih membeli minyak dari Iran.

Trump mengatakan, pengecualian yang selama ini diberikan kepada lima negara itu akan berakhir pada 2 Mei. Setelah itu, negara-negara tersebut terancam dikenai sanksi AS jika terus membeli minyak dari Iran.

Tujuan pencabutan pengecualian sanksi itu adalah untuk benar-benar melumpuhkan ekspor minyak Iran sebagai sumber pendapatan utama negara.

Iran selama ini menegaskan sanksi AS yang diterapkan terhadap negara itu adalah ilegal.

Presiden Trump kembali memberlakukan sanksi kepada Iran tahun lalu setelah menarik diri dari kesepakatan nuklir bersejarah tahun 2015 antara Iran dengan enam kekuatan dunia.

Setelah pengumuman itu, harga patokan global minyak mentah Brent naik 3,33% menjadi US$74,37 per barel dalam perdagangan pada hari Senin--tertinggi sejak 1 November.

Sementara minyak AS--dikenal sebagai West Texas Intermediate--itu naik 2,90% menjadi US$65,93.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak telah naik akibat kesepakatan antara kartel Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari.

Bagaimana reaksi dari negara-negara yang terdampak?

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menepis keputusan Trump, mengatakan negara tersebut "tidak dan tidak pernah mengaitkan nilai maupun kredibilitas pada pengecualian sanksi".

Namun juru bicara Kemenlu Iran Abbas Mousavi menambahkan bahwa karena efek negatif sanksi AS, Iran "terus melakukan kontak" dengan mitra internasionalnya dan akan bertindak sebagaimana mestinya.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mencuit bahwa langkah AS "tidak mendukung perdamaian dan stabilitas regional, dan hanya akan mencederai rakyat Iran".

"Turki menolak sanksi sepihak dan pemaksaan dalam cara berhubungan dengan negara tetangga," imbuhnya.

China sebelumnya mengatakan bahwa mereka menentang sanksi AS, yang diterapkan secara sepihak.

"Kerjasama China-Iran terbuka, transparan, dan sesuai dengan hukum. Ini harus dihormati," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Geng Shuang kepada wartawan.

Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, dikutip Financial Times mengatakan seharusnya tidak ada "dampak negatif pada operasi perusahaan Jepang".

Kilang-kilang minyaknya dilaporkan menghentikan impor dari Iran pada bulan Maret.

Pemerintah India sedang mempelajari implikasi dari pengumuman AS, lansir kantor berita PTI dengan mengutip sebuah sumber. Negara itu dilaporkan berharap dapat terus mengurangi impor minyak dari Iran secara bertahap.

Korea Selatan berhenti membeli minyak dari Iran selama empat bulan sebagai akibat dari sanksi, tapi kembali mengimpor pada Januari. Pada bulan Maret, negara tersebut mengimpor 284.600 barel per hari. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x