Find and Follow Us

Minggu, 26 Mei 2019 | 08:29 WIB

Pertama Kali, Kim dan Putin akan Bertemu

Rabu, 24 April 2019 | 07:35 WIB
Pertama Kali, Kim dan Putin akan Bertemu
(Foto: BBC)

INILAHCOM, Jakarta--Media pemerintah Korea Utara mengonfirmasi Kim-Jong-un akan segera berkunjung ke Rusia untuk mengadakan pembicaraan pertama kalinya dengan Presiden Vladimir Putin.

Meski belum ada tanggal resmi yang diumumkan, pihak Kremlin menyebutkan keduanya akan bertemu "pada paruh kedua April". Demikian BBC melaporkan Rabu (24/4/2019).

Korea Utara menganggap penting setiap pertemuan dengan beberapa sekutu pentingnya, setelah gagal mencapai kesepakatan dalam pertemuan puncak dengan AS bulan Februari di Hanoi.

Keduanya akan mengusung agenda berbeda dalam pembicaraan yang diperkirakan akan berlangsung di kota Vladivostok, Rusia timur.

Uni Soviet adalah sekutu utama Korea Utara, yang menawarkan kerja sama ekonomi, pertukaran budaya dan bantuan. Mereka jugalah yang memberi Korea Utara pengetahuan awal tentang nuklir.

Namun sejak negara yang berjuluk Tirai Besi itu runtuh, hubungan mereka terpuruk. Dengan ikatan ideologis yang melemah, tidak ada alasan untuk perlakuan dan dukungan khusus. Dan, sebagai mitra dagang reguler, Korea Utara tidak terlalu menarik bagi Rusia, karena tidak mampu menarik pasar internasional.

Sejak Rusia secara perlahan mengucilkan diri dari Barat sejak awal tahun 2000-an, beberapa hubungan sedikit meningkat. Moskow mendapati negaranya mendukung negara-negara "berdasarkan logika lama, bahwa musuh musuh saya adalah teman saya," jelas Profesor Andrei Lankov dari Universitas Kookmin Seoul.

Korea Utara dan Rusia terakhir kali mengadakan pertemuan bilateral pada tahun 2011, ketika Presiden Dmitry Medvedev bertemu ayah Kim, Kim Jong-il.

Secara geografis hubungan keduanya memang dapat dimengerti--mereka hanya dipisahkan oleh perbatasan yang tak terlalu jauh dari salah satu kota terpenting di Rusia, Vladivostok, yang diharapkan menjadi tempat pertemuan kedua pemimpin.

Selain kedekatan perbatasan, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mencatat ada sekitar 8.000 pekerja migran Korea Utara bekerja di Rusia, yang menyumbang pendapatan ke negaranya. Bahkan diperkirakan jumlahnya lebih besar dari yang diperkirakan.

Di bawah sanksi PBB saat ini, semua pekerja ini harus dipulangkan ke negaranya pada akhir tahun ini.

Apa yang diinginkan Korea Utara?

Pertemuan puncak antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump di Hanoi berakhir tanpa ada kesepakatan atau kemajuan program nuklir Korea Utara.

Tentu saja ini bukanlah hasil yang diharapkan pemimpin Korea Utara, karena awalnya ia mengharapkan pencabutan keseluruhan sanksi internasional yang merugikan ekonomi di negaranya.

"Sanksi-sanksi internasional mulai berlaku dan tidak mengubah posisi AS, sangat tidak mungkin Korea Utara akan dapat memperoleh bantuan sanksi dan meningkatkan perdagangan dengan dunia luar," kata Prof Lankov.

Jadi, Korea Utara perlu menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang mungkin bisa membantu untuk mencapai tujuannya. Apapun bentuknya, mulai dari kemajuan yang sudah ada hingga bantuan diplomatik simbolis akan berguna bagi Pyongyang.

Alexey Muraviev, seorang professor di Curtin University di Perth, Australia, mengatakan Korea Utara harus menunjukkan kepada AS bahwa "mereka tidak terisolasi".

"Jika mereka dapat menunjukkan bahwa masih ada kekuatan besar yang mendukungnya, mereka akan punya kekuatan untuk pembicaraan dengan AS dan China."

Jadi Rusia menjadi pilihan yang menarik.

Apa yang diinginkan Moskow?

Presiden Putin sangat ingin bertemu dengan pemimpin Korea Utara di tengah pertemuan puncak Trump-Kim, namun entah kenapa Kremlin tersingkir.

Jadi, pertemuan puncak di Hanoi gagal mencapai kesepakatan, pertemuan dengan Kim Jong-un merupakan kesempatan yang baik bagi Putin untuk mengembalikan Moskow ke arena permainan.

Seperti AS dan China, Rusia tidak senang pada Korea Utara yang menjadi negara nuklir dan pada awal tahun 2000-an adalah bagian dari perundingan enam pihak yang bernasib buruk, setelah Pyongyang menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

Tetapi tidak seperti Washington, Moskow ingin menerima status quo: denuklirisasi dipandang sebagai tujuan yang tidak realistis, sehingga Kremlin malah menginginkan pembicaraan dengan Pyongyang yang bertujuan menstabilkan situasi.

Keterlibatan Rusia juga merupakan masalah gengsi dan reputasi. Terlepas dari bagaimana hubungan AS-Korea Utara akan berjalan, Rusia tertarik untuk terlibat, setidaknya di beberapa tingkat.

Jika Putin berhasil menguasai setidaknya beberapa tingkat dalam situasi ini, ia dapat menunjukkan bahwa Rusia masih ada di wilayah tersebut.

Bahkan akan menjadi lebih baik jika Kremlin berkontribusi dengan cara berarti untuk menyelesaikan situasi Korea Utara. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x