Find and Follow Us

Kamis, 22 Agustus 2019 | 01:14 WIB

Upaya Kudeta di Libya, 21 Orang Tewas

Senin, 8 April 2019 | 10:32 WIB
Upaya Kudeta di Libya, 21 Orang Tewas
(Foto: VoaNews)

INILAHCOM, Tripoli--Sedikitnya 21 orang tewas dan 27 lainnya terluka dalam pertempuran antara pasukan Pemerintah Libya melawan pasukan pemberontak di dekat ibu kota, Tripoli.

Pasukan pemberontak pimpinan Jenderal Khalifa Haftar terus bergerak dari wilayah timur dengan tujuan mengambil alih Tripoli.

Perdana Menteri Libya, Fayez al-Serraj menuduh Haftar berusaha melakukan kudeta dan mengatakan pemerintah akan menghadapinya dengan kekuatan militer. Demikian laporan yang dikutip dari BBC, Senin (8/4/2019).

Di antara korban sipil yang tewas adalah seorang dokter dari organisasi Bulan Sabit Merah yang terbunuh, Sabtu lalu.

Sementara pasukan militer Jenderal Haftar mengklaim pihaknya kehilangan 14 orang tentaranya.

Pasukan internasional mulai mengevakuasi personelnya dari Libya di tengah situasi keamanan yang terus memburuk.

Libya hancur-lebur akibat kekerasan dan ketidakstabilan politik semenjak penguasanya, Muammar Gaddafi, digulingkan dan dibunuh pada 2011.

Pasukan Nasional Libya (LNA) pimpinan Jenderal Haftar telah melakukan serangan serempak dari wilayah selatan dan barat Tripoli sejak Kamis (4/4/2019) lalu.

Pada hari Minggu (7/4/2019), LNA mengklaim telah melakukan serangan udara pertama, sehari setelah Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA), yang didukung PBB, memukul mereka dengan serangan udara pada hari Sabtu.

Pertempuran berlanjut di sekitar bandar udara internasional yang tidak digunakan di wilayah selatan ibu kota, yang sebelumnya diklaim sudah dikuasai pasukan Jenderal Haftar.

Pasukan yang setia kepada GNA memperlambat serangannya hari Minggu. Juru bicara GNA mengatakan kepada Al-Jazeera TV bahwa GNA saat ini akan melakukan "pembersihan" seluruh negeri dari gangguan Haftar.

Menteri Luar Negeri India, Sushma Swaraj, mengatakan, semua kontingen dari 15 negara penjaga perdamaian telah dievakuasi dari Tripoli karena "situasi di Libia tiba-tiba memburuk".

Perusahaan minyak dan gas multinasional Italia, Eni, memutuskan untuk mengevakuasi semua personelnya yang sebagian besar adalah warga negara Italia.

PBB juga akan menarik stafnya yang dianggap tidak berperan penting dari negara itu.

Sementara warga Tripoli dilaporkan mulai menimbun makanan dan bahan bakar.

Tetapi wartawan BBC, Sebastian Usher mengatakan banyak dari mereka yang berada di dekat lokasi pertempuran masih tinggal di rumah mereka, karena takut terjadi penjarahan.

Lusinan kelompok milisi masih beroperasi di negara itu dan mereka bekerjasama dengan GNA yang didukung PBB, serta basis mereka ada di Tripoli.

Adapun Jenderal Haftar, adalah tokoh yang berada dalam barisan anti-kelompok Islamis, yang mendapat dukungan Mesir dan UEA. Mereka memiliki kekuatan di wilayah Libya bagian timur.

Jenderal Haftar membantu Kolonel Gaddafi saat merebut kekuasaan pada 1969 sebelum mereka digulingkan dan dia memilih pergi mengasingkan diri di AS.

Dia kembali pada 2011 silam setelah pemberontakan melawan Gaddafi mulai digencarkan dan dia menyebut dirinya sebagai pemberontak. [bbc/lat]


Komentar

Embed Widget
x