Find and Follow Us

Minggu, 26 Mei 2019 | 07:59 WIB

PBB: Pengungsi Rohingya Nyaris Tanpa Harapan

Minggu, 3 Maret 2019 | 10:40 WIB
PBB: Pengungsi Rohingya Nyaris Tanpa Harapan
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, New York - Pengungsi Muslim Rohingya yang telah menyelamatkan diri ke wilayah Cox's Bazar di Bangladesh hidup dalam 'kondisi yang sangat menantang' dengan nyaris tanpa harapan, kata seorang utusan PBB.

Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, memberi penjelasan kepada Dewan Keamanan PBB mengenai kunjungannya baru-baru ini ke Myanmar, Bangladesh, dan tujuan lain di wilayah tersebut.

Burgener mengatakan, 18 bulan telah berlalu sejak kerusuhan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, memaksa ratusan ribu Muslim Rohingya meninggalkan tempat tinggal mereka, termasuk ke negara tetangga, Bangladesh.

"Meskipun Bangladesh dan masyarakat penerima sangat baik hati, kami tak bisa mengharapkan ini akan berlangsung selamanya," kata Burgener, seperti dikutip Kantor Berita Turki, Anadolu.

Dia pun menyebut Rencana Tanggap Bersama PBB bagi 2019, yang diluncurkan belum lama ini, yang bertujuan mendukung para pengungsi dan masyarakat penampung, memerlukan dana darurat.

Burgener mengatakan, sejumlah langkah prioritas juga perlu dilakukan, termasuk diakhirinya kerusuhan di Myanmar, difasilitasinya akses tanpa hambatan ke orang yang terpengaruh, ditanganinya sumber ketegangan dan dimungkinkannya pembangunan yang melibatkan banyak kalangan dan berkesinambungan.

Menurutnya, ketegangan sipil dan militer berlangsung terus di Myanmar sebelum pemilihan umum pada 2020.

Burgener juga menyampaikan keprihatinan bahwa perang sengit dengan Tentara Arakan akan makin mempengaruhi upaya ke arah pemulangan sukarela dan bermartabat para pengungsi, dan juga menyeru kedua pihak agar menjamin perlindungan warga sipil dan melaksanakan kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi kekhawatiran yang bertambah besar mengenai serangan sejak puluhan orang tewas dalam bentrokan antar-masyarakat pada 2012.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya, kebanyakan perempuan dan anak-anak, telah meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke dalam wilayah Bangladesh setelah pasukan militer Myanmar melancarkan penindasan terhadap masyarakat minoritas Muslim pada 2017.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24 ribu Muslim Rohingya telah tewas oleh pasukan Pemerintah Myanmar, demikian satu laporan yang dikeluarkan oleh Lembaga Pembangunan Internasional Ontario (OIDA).

Lebih dari 34 ribu orang Rohingya juga dilemparkan ke dalam kobaran api, sementara lebih dari 114 ribu orang lagi dipukuli, kata laporan OIDA yang berjudul 'Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience'.

Sebanyak 18 ribu anak perempuan dan wanita Rohingya diperkosa oleh polisi dan tentara Myanmar, serta lebih dari 115 ribu rumah orang Rohingya dibakar dan 113 ribu lagi dirusak, tambah laporan itu.

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan --termasuk bayi dan anak kecil-- pemukulan secara brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan militer Myanmar.

Di dalam satu laporan, para penyelidik PBB mengatakan pelanggaran semacam itu mungkin telah menjadi kejahatan terhadap umat manusia.

Komentar

Embed Widget
x