Find and Follow Us

Minggu, 16 Juni 2019 | 17:32 WIB

Setelah Serangan, Pakistan Tahan Pilot India

Kamis, 28 Februari 2019 | 07:25 WIB
Setelah Serangan, Pakistan Tahan Pilot India
(Foto: bbci)

INILAHCOM, New Delhi--India menuntut Pakistan membebaskan seorang pilot yang pesawat tempurnya ditembak jatuh dalam eskalasi konflik kedua negara tetangga. Demikian BBC, Kamis (28/2/2019).

Rekaman video yang disebarkan Kementerian Informasi Pakistan menampilkan sang pilot dalam keadaan mata ditutup dan terdapat noda darah pada wajahnya.

India menyebut tayangan itu sebagai "tampilan vulgar seorang personel yang cedera".

Serangan udara lintas perbatasan yang membagi Kashmir menjadi wilayah Pakistan dan India merupakan insiden pertama sejak kedua negara terlibat perang pada 1971 silam.

Pilot Angkatan Udara India, yang identitasnya disebut sebagai Letnan Kolonel Abhinandan, dilaporkan "hilang saat bertugas" oleh para pejabat India.

Tayangan video yang menunjukkan kondisi sang pilot setelah ditangkap, dirilis oleh Kementerian Informasi Pakistan--walau belakangan dihapus. Dalam video itu tampak pria tersebut matanya ditutup dan meminta air minum.

Dia lalu terlihat menjawab sejumlah pertanyaan tentang nama dan pangkatnya, namun menolak memberi rincian mengenai misinya: "Saya seharusnya tidak memberi tahu Anda hal itu".

Juru bicara militer Pakistan, Mayor Jenderal Asif Ghafoor, mengatakan pilot itu "diperlakukan sesuai dengan norma-norma dalam etika militer".

Major Jenderal Ghafoor mengatakan sejumlah pesawat tempur Pakistan melancarkan "serangan" di Kashmir bagian India pada Rabu (27/2/2019), namun tidak menjelaskan untuk apa aksi tersebut dilakukan.

Dua pesawat tempur India, menurutnya, kemudian merespons dengan melintasi perbatasan de facto yang memisahkan Kashmir bagian India dan Pakistan.

"Pesawat kami sudah siap dan kami menembak jatuh keduanya," kata Ghafoor.

Dia menambahkan, seorang pilot India ditahan militer Pakistan. Sejumlah pejabat sebelumnya mengatakan dua pilot ditangkap dan salah satunya dibawa ke rumah sakit.

Tidak ada penjelasan mengapa angka yang diberikan berubah.

Kementerian Informasi Pakistan juga merilis cuitan yang menampilkan tayangan jatuhnya salah satu pesawat tempur India.

Major Jenderal Ghafoor kemudian menjelaskan bahwa pesawat-pesawat tempur Pakistan telah "melancarkan aksi" terhadap enam target di wilayah India, namun kemudian menggencarkan serangan udara di "ruang terbuka".

"Kami tidak ingin menempuh jalur peperangan," katanya.

Juru bicara Kementerian Urusan Eksternal India, Raveesh Kumar, membenarkan bahwa India telah kehilangan pesawat tempur MiG-21 beserta pilotnya.

Dia juga mengatakan pesawat India telah menembak jatuh sebuah pesawat tempur Pakistan dan pasukan darat India telah menyaksikan jatuhnya pesawat itu di wilayah Pakistan. Adapun Pakistan membantah pesawatnya jatuh.

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menyampaikan pidato yang disiarkan stasiun televisi guna menanggapi eskalasi konflik dengan India.

Menurutnya, kedua negara tidak boleh salah perhitungan, mengingat persenjataan yang mereka miliki. Kedua negara sama-sama memiliki teknologi nuklir.

"Kita harus duduk dan bicara," ujarnya.

"Jika kita membiarkan ini terjadi, kendalinya bukan lagi terletak pada saya dan Narendra Modi," sambungnya, merujuk Perdana Menteri India.

Dia menambahkan, "Aksi kami hanya membiarkan mereka tahu bahwa sebagaimana mereka telah melanggar wilayah kami, kami juga bisa masuk ke wilayah mereka."

Modi belum berkomentar, namun laporan-laporan di India menyebutkan dia telah menemui para petinggi keamanan dan intelijen guna membahas situasi terkini.

Menteri Luar Negeri India, Sushma Swaraj, menekankan negaranya akan bertindak "dengan tanggung jawab dan mengekang diri".

"India tidak ingin melihat eskalasi situasi ini lebih lanjut," cetusnya usai berjumpa dengan menlu Rusia dan China.

Kashmir adalah masalah peka bagi India dan Pakistan sejak kemerdekaan, di mana wilayah tersebut dibagi menjadi zona di bawah Pakistan dan India, di samping Cina.

India dan Pakistan mengklaim seluruh Kashmir adalah wilayahnya, tetapi dua negara itu hanya mengendalikan sebagian.

Sampai sejauh ini sudah terjadi dua perang (tahun 1947 dan 1965), beberapa bentrokan bersenjata, sejumlah serangan terhadap militer dan warga sipil, serta peningkatan ketegangan dengan negara-negara tetangga. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x