Find and Follow Us

Minggu, 26 Mei 2019 | 08:07 WIB

Perempuan Inggris ISIS di Suriah Ingin Pulang

Jumat, 15 Februari 2019 | 06:45 WIB
Perempuan Inggris ISIS di Suriah Ingin Pulang
(Foto: BBC)

INILAHCOM, Jakarta--Salah seorang dari tiga remaja putri Inggris yang meninggalkan London pada 2015 untuk bergabung dengan ISIS mengatakan tidak menyesali perbuatannya, tetapi ingin kembali ke Inggris.

Dalam sebuah wawancara dengan Times, Shamima Begum, kini berusia 19 tahun, berbicara tentang "kepala yang dipenggal" di dalam sebuah keranjang. Namun dia mengaku "tidak merasa tergganggu".

Berbicara dari sebuah kamp pengungsi di Suriah, dia mengatakan dia saat ini hamil sembilan bulan dan ingin kembali ke Inggris demi bayinya.

Dia mengaku sudah memiliki dua anak tetapi semuanya meninggal duia.

Dia juga menggambarkan bagaimana salah seorang dari dua teman sekolahnya, yang meninggalkan Inggris bersamanya, tewas akibat serangan bom. Nasib gadis ketiga tidak jelas.

Shamima Begum dan Amira Abase, keduanya berusia 15 tahun dan siswi Bethnal Green Academy di London, sementara Kadiza Sultana, yang berusia 16 tahun, meninggalkan Inggris pada Februari 2015.

Mereka terbang dari Bandara Gatwick menuju Turki setelah memberi tahu orang tua mereka bahwa mereka akan keluar kota pada hari itu. Setelah tiba di Turki, mereka menyeberangi perbatasan ke Suriah.

Setelah tiba di Raqqa, dia tinggal di sebuah rumah dengan seorang calon pengantin perempuan lainnya yang juga baru tiba, katanya kepada Times.

"Saya mengajukan lamaran untuk menikah dengan pria anggota kelompok militan yang mampu berbahasa Inggris, yang usianya sekitar 20 dan 25 tahun," katanya.

Sepuluh hari kemudian dia menikah dengan pria Belanda berusia 27 tahun yang telah memeluk Islam.

Semenjak saat itulah dia tinggal bersamanya, dan pasangan itu akhirnya melarikan diri dari Baghuz--wilayah terakhir yang diduduki kelompok itu di kawasan Suriah bagian timur--dua pekan lalu.

Suaminya menyerah kepada kelompok pejuang Suriah dan mereka akhirnya terpisah. Saat ini, Shamima Begum tinggal bersama sekitar 39.000 orang lainnya di kamp pengungsi di Suriah utara.

Ditanya oleh jurnalis Times, Anthony Loyd, apakah pengalamannya tinggal di Raqqa, sesuai dengan keinginannya, Begum mengatakan: "Ya, benar. Itu seperti kehidupan normal. Kehidupan yang mereka tunjukkan dalam video propaganda--ini adalah kehidupan normal. Sesekali ada bom dan sebagainya. Tapi selain itu ..."

Dia mengaku melihat "kepala yang dipenggal" untuk pertama kalinya di dalam tempat sampah, tetapi dia mengaku "tidak tengganggu sama sekali". [bbc/lat]

"Itu kepala seseorang yang ditangkap di medan perang, (dia) musuh Islam.

"Saya hanya memikirkan apa yang akan dia lakukan terhadap seorang perempuana Muslim, jika dia punya kesempatan," katanya.

"Saya bukanlah anak sekolahan berusia 15 tahun yang konyol seperti saat saya kabur dari Bethnal Green empat tahun lalu," katanya kepada Loyd.

"Saya tidak menyesal datang ke sini (Suriah)," tandasnya. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x