Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 21 Februari 2019 | 03:23 WIB

CEO Twitter Inc Jack Dorsey

'Silicon Valley Belum Maksimal Atasi Pelecehan'

Kamis, 14 Februari 2019 | 02:45 WIB

Berita Terkait

'Silicon Valley Belum Maksimal Atasi Pelecehan'
CEO Twitter Inc Jack Dorsey - (livemint.com)

INILAHCOM, San Francisco - CEO Twitter Inc Jack Dorsey mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley, termasuk perusahaannya, belum melakukan upaya yang cukup untuk melindungi korban pelecehan online. Dia pun menyebut hal itu sebagai 'kegagalan besar'.

Dalam wawancara melalui Twitter dengan Kara Swisher, salah satu pendiri situs berita teknologi Recode, sebagaimana dilansir Reuters, Dorsey mencuit bahwa dia akan memberi perusahaannya nilai 'C' sebagai tanggapan atas pertanyaan Swisher terkait 'tanggung jawab teknologi'.

"Kami membuat kemajuan, tapi tidak terfokus, dan masih belum cukup," cuitnya.

"Mengubah pengalaman masih belum bermakna. Dan kami masih menempatkan sebagian besar beban kepada para korban pelecehan (itu kesalahan besar)," lanjut cuitan Dorsey.

Twitter dan jejaring media sosial Facebook telah menuai kritikan atas pesan-pesan pelecehan, akun palsu, dan pemberitaan yang tidak akurat di layanan mereka.

Twitter telah melakukan investasi besar untuk memperbaiki hal yang Dorsey gambarkan sebagi 'kesehatan bersama' Twitter.

Pada Selasa (12/2/2019), Dorsey mengatakan bahwa dia tidak menyukai cara Twitter, yang cenderung memicu kemarahan, menghadirkan pola pikir jangka pendek, menjadi ruang yang menggemakan, dan memotong-motong pembicaraan.

Selain itu, menurut Dorsey, kurangnya keragaman di Twitter juga tidak menyelesaikan permasalahan itu.

Menurut dia, upaya Twitter untuk bekerja melawan 'otomatisasi dan kampanye terkoordinasi', bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah membuat perusahaan itu berada di posisi yang lebih baik dalam memerangi ancaman kesalahan informasi dalam pemilu presiden AS 2020 mendatang.

Sejumlah badan intelijen AS sebelumnya melaporkan bahwa Rusia 'menggunakan media sosial untuk membuat bingung para pemilih'. Moskow, di sisi lain, dengan tegas membantah tuduhan tersebut.

Komentar

Embed Widget
x