Find and Follow Us

Minggu, 18 Agustus 2019 | 06:00 WIB

Prancis Tarik Duta Besar dari Italia

Jumat, 8 Februari 2019 | 15:43 WIB
Prancis Tarik Duta Besar dari Italia
(Foto: bbc)

INILAHCOM, Paris--Perseteruan diplomatik antara Prancis dan Italia semakin dalam. Prancis mengeluhkan 'klaim aneh dan serangan tak berdasar' yang dinyatakan pejabat tinggi Italia. Demikian BBC melaporkan, Jumat (8/1/2019).

Prancis memanggil pulang duta besar mereka untuk Italia, Kamis (7/2/2019). Mereka menyebut situasi diplomatik seperti ini tak pernah terjadi sejak akhir Perang Dunia II.

Perseteruan ini muncul setelah Wakil Perdana Menteri Italia, Luigi Di Maio, bertemu dengan para demonstran 'jaket kuning' di dekat Paris, Selasa (2/2/2019) lalu.

Prancis memperingatkan Di Maio untuk tidak ikut campur masalah dalam negeri mereka.

Hubungan antara dua negara pendiri Uni Eropa itu memanas sejak Gerakan Bintang Lima yang populis serta sayap kanan, Partai Liga, membentuk pemerintahan koalisi Italia, Juni 2018.

Sejak saat itu, Prancis dan Italia berseteru dalam sejumlah isu, termasuk imigrasi.

Perseteruan terbaru bermula setelah Di Maio, pemimpin Gerakan Bintang Lima, bertemu penggerak kelompok anti-pemerintah, kelompok jaket kuning alias gilets jaunes, Kamis kemarin.

Di Maio mengunggah foto ke Twitter, yang memperlihatkan dirinya berpose bersama pemimpin kelompok jaket kuning, Christophe Chalencon, dan sejumlah anggota gerakan oposisi itu yang akan mengikuti pemilihan parlemen Uni Eropa, Mei mendatang.

"Selama beberapa bulan, Prancis telah menjadi subjek gugatan berulang-ulang, serangan tak berdasar, dan klaim yang aneh," kata Kementerian Luar Negeri Prancis.

"Intervensi terakhir menegaskan provokasi baru yang tak dapat diterima. Hal-hal ini melanggar kehormatan yang diterima secara demokratis oleh negara yang merupakan kolega dan sekutu.

"Ketidaksetujuan adalah satu hal, namun mengeksploitasi hubungan baik demi tujuan elektoral adalah hal lain," demikian pernyataan resmi Prancis.

Sejawat Di Maio, Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, belakangan mengaku senang jika ia menunda pembicaraan dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Namun untuk memperbaiki hubungan, Salvini menyebut Prancis harus terlebih dulu menuntaskan sejumlah persoalan mendasar.

Salvini berharap Prancis menyerahkan milisi sayap kiri yang diincar pemerintah Italia dan berhenti mengembalikan imigran.

Salvini juga mengeluhkan pemeriksaan imigrasi di perbatasan Prancis-Italia yang menyebabkan kemacetan panjang.

Adapun, Di Maio merasa tak perlu ada persoalan atas perbuatannya. Ia menyebut warga Prancis sebagai 'kawan dan sekutu'.

"Presiden Macron beberapa kali menyerang pemerintah Italia atas alasan politis terkait pemilihan di Uni Eropa. Ini tidak mempengaruhi persahabatan yang mengikat kedua negara. Tidak akan pernah," ujarnya. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x