Find and Follow Us

Kamis, 20 Juni 2019 | 18:15 WIB

'Bumi Tengah Alami Dekade Terhangat Sejak 1850'

Jumat, 8 Februari 2019 | 10:01 WIB
'Bumi Tengah Alami Dekade Terhangat Sejak 1850'
Grafis NASA memperlihatkan anomali temperatur global antara 2014 and 2018. Kawasan yang mencapai taraf lebih tinggi dari tren jangka panjang ditunjukkan dengan warna merah - (NASA/BBC)

INILAHCOM, London - Bumi tampaknya sedang mengalami dekade terhangat sejak pencatatan dimulai pada 1850, sebut sejumlah ilmuwan.

Menurut prakiraan Badan Meteorologi Inggris, suhu setiap tahun sepanjang lima tahun ke depan amat mungkin mencapai 1 derajat Celsius di atas suhu rata-rata pada masa pra-industri.

Dalam lima tahun ke depan, khalayak juga boleh jadi mengalami kenaikan suhu rata-rata global lebih dari 1,5 derajat Celsius.

Jika prakiraan itu sejalan dengan kenyataannya, maka periode 2014-2023 akan menjadi dekade terhangat selama 169 tahun.

Apakah prakiraan kenaikan suhu mencederai kesepakatan iklim Paris?

Badan Meteorologi Inggris mengatakan 2015 adalah tahun pertama temperatur rata-rata permukaan tahunan global mencapai satu derajat Celsius di atas taraf pra-industrisuhu rata-rata antara 1850-1900.

Setiap tahun sejak periode 1850-1900, suhu rata-rata dunia mendekati atau di atas satu derajat Celsius. Kini, Badan Meterologi Inggris mengatakan tren itu tampaknya akan terus berlanjut atau meningkat selama lima tahun ke depan.

"Kami telah membuat prakiraan tahun ini sampai 2023. Apa yang diindikasikan dari prakiraan tersebut adalah peringatan global," kata Prof Adam Scaife, kepala prakiraan jangka panjang di Badan Meteorologi Inggris kepada BBC News.

"Dengan mencermati tahun demi tahun dalam prakiraan itu, kita dapat melihat untuk pertama kalinya ada risiko sementara. Saya ulangi, sementara, peningkatan batas 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan pada kesepakatan iklim Paris," imbuhnya.

Bulan lalu, para ilmuwan PBB menerbitkan laporan khusus mengenai dampak jangka panjang apabila suhu meningkat 1,5 derajat Celsius.

Mereka menyimpulkan bahwa perlu adanya upaya pemangkasan karbon secara luar biasa untuk mencegah dunia tidak melampaui batas pada 2030.

Analisis Badan Meteorologi Inggris menyebutkan ada 10 persen peluang hal itu terjadi dalam lima tahun ke depan.

"Ini pertama kalinya prakiraan menunjukkan risiko melampaui batas yang signifikan --hanya sementara. Kita bicara di sini tentang tahun-tahun individu yang meningkat di atas taraf 1,5 derajat Celsius," kata Prof Scaife.

"Namun, fakta bahwa hal itu bisa terjadi sekarang karena kombinasi pemanasan secara umum dan fluktuasi akibat kejadian seperti El Nino dalam lima tahun ke depan berarti kita semakin mendekati ambang batas," lanjut dia.

Seberapa yakin Badan Meteorologi Inggris dengan prediksinya?

Badan Meteorologi Inggris menyatakan punya tingkat kepercayaan 90 persen dalam prakiraan tahun-tahun mendatang.

Disebutkan bahwa dari 2019 ke 2023, khalayak akan mengalami variasi suhu antara 1,03 derajat Celsius hinga 1,57 derajat Celsius di atas taraf periode 1850-1900, dibarengi peningkatan panas di berbagai belahan dunia, khususnya di kawasan Artik.

Tim riset lembaga tersebut mengatakan cukup yakin dengan prediksi tersebut karena pengalaman masa lalu. Prakiraan yang lalu, pada 2013, memprediksi tingkat pemanasan secara cepat yang kemudian terjadi selama lima tahun terakhir.

Prediksinya bahkan hingga ke rincian yang kurang diketahui, seperti pendinginan di area tertentu, seperti di Atlantik Utara dan Samudera Selatan.

Bagaimana dengan prediksi lembaga klimatologi lainnya?

Prediksi Badan Meteorologi muncul selagi lembaga lainnya merilis analisis lengkap soal data temperatur dari tahun lalu, yang menunjukkan 2018 sebagai tahun terhangat keempat sejak pencatatan dilakukan pada 1850.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah mempublikasikan analisis dari lima rangkaian data internasional yang menunjukkan 20 tahun terhangat tercatat sepanjang 22 tahun terakhir.

"Temperatur hanya sekelumit dari kisah. Cuaca ekstrem dan berdampa tinggi mempengaruhi banyak negara dan jutaan orang dengan imbas menghancurkan bagi perekonomian dan ekosistem pada 2018," kata Sekjen WMO Petteri Taalas.

"Sebagian besar dari insiden cuaca ekstrem ini konsisten dengan apa yang kami perkirakan dari perubahan iklim. Inilah realita yang perlu kita hadapi. Pengurangan emisi gas rumah kaca dan langkah-langkah adaptasi iklim seharusnya menjadi prioritas utama dunia," lanjutnya.

Periset lainnya di lapangan mengatakan prakiraan baru selama lima tahun ke depan sejalan dengan ekspektasi mengingat rekor taraf CO2 yang dilepaskan ke atmosfer pada 2018.

"Prakiraan dari Badan Meteolorologi, sayangnya, bukan kejutan," kata Dr Anna Jones, ahli kimia atmosfer dari lembaga British Antarctic Survey.

"Rata-rata suhu di seluruh dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah dan terus begitu selama bertahun-tahun. Ini utamanya didorong oleh peningkatankonsentrasi gas rumah kaca, semisal karbon dioksida yang berasal dari penggunaan bahan bakar fosil secara terus menerus.

"Sampai kita mengurangi emisi gas rumah kaca, kita bisa melihat tren peningkatan pada suhu rata-rata global," pungkasnya. [BBC]

Komentar

x