Find and Follow Us

Kamis, 25 April 2019 | 01:01 WIB

5 Tersangka Pembom Gereja Filipina Menyerah

Selasa, 5 Februari 2019 | 07:59 WIB
5 Tersangka Pembom Gereja Filipina Menyerah
(Foto: voaindonesia)

INILAHCOM, Manila--Kepala Kepolisian Nasional Filipina Jenderal Oscar Albayalde mengatakan bahwa lima tersangka militan Abu Sayyaf yang terkait dengan pemboman kembar di sebuah katedral Katolik Roma di Filipina selatan telah menyerah kepada pihak berwenang.

Jenderal Oscar Albayalde mengatakan, kelima orang itu dan beberapa lainnya yang masih buron dituduh melakukan pembunuhan dan percobaan pembunuhan atas peran mereka dalam serangan 27 Januari yang menewaskan 23 orang dan melukai sekitar 100 lainnya.

Presiden Rodrigo Duterte telah memerintahkan pasukan untuk menghancurkan Abu Sayyaf yang bersekutu dengan ISIS.

Menurut laporan polisi, seorang tersangka militan setempat, yang diidentifikasi sebagai Kammah Pae, yang telah membantah terlibat dalam pemboman itu, memimpin para pembom ke Katedral Our Lady of Mount Carmel di kota Jolo, Provinsi Sulu.

Bom pertama meledak selagi Misa berlangsung di katedral itu. Ketika pasukan militer dan polisi bergegas membantu para korban, bom kedua diledakkan.

Serangan itu memperbaharui ketakutan akan terorisme di seluruh Filipina. Kepolisian nasional telah disiagakan penuh dan langkah-langkah keamanan diperketat di gereja-gereja, pusat-pusat perbelanjaan dan berbagai area publik lainnya.

Serangan itu juga telah menimbulkan kekhawatiran bahwa ISIS mungkin menemukan tempat di Asia Tenggara setelah menderita kekalahan besar dalam pertempuran di Suriah dan Irak.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano, mengatakan dua pelaku bom bunuh diri itu diduga berasal dari Indonesia yang dibimbing oleh Abu Sayyaf. Dimana kelompok ini telah disahihkan ISIS sebagai perwakilan komando mereka di wilayah Asia Tenggara pada 2014 lalu.

Pengamat terorisme Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe Al Chaidar meyakini pelaku serangan bom bunuh diri di satu gereja Katolik di Jolo, Filipina selatan, meniru aksi serupa di Surabaya, Jawa Timur.

"Pasangan yang melakukan serangan bom bunuh diri ingin mengajarkan kepada orang-orang di Mindanao, bahwa melakukan serangan harus dengan cara paling ekstrem yaitu bom bunuh diri keluarga," ujar Al Chaidar kepada Quin Pasaribu, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Pesan yang ingin disampaikan dari kejadian itu, kata Al Chaidar, adalah "mengajarkan" kepada anggota kelompok Abu Sayyaf tentang cara melakukan aksi teror yang paling radikal dan menjadikannya sebagai strategi utama.

Sebab selama ini kelompok Abu Sayyaf dianggap setengah hati dalam "berjuang" lantaran menerapkan metode lama; hit and run(serang dan lari).

Tahun lalu, Surabaya diguncang bom bunuh diri yang dilakukan pasangan suami dan istri Dita Oepriarto-Puji Kuswati yang juga mengajak anak-anaknya meledakkan diri di tiga gereja. [voa/bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x