Find and Follow Us

Sabtu, 20 April 2019 | 15:17 WIB

Desa-desa di India Ini Bersikeras Ganti Nama

Selasa, 8 Januari 2019 | 09:09 WIB
Desa-desa di India Ini Bersikeras Ganti Nama
Harpreet Kaur menulis surat kepada PM India meminta nama desanya diganti karena dianggap memiliki arti yang memalukan. - (BBC)

INILAHCOM, New Delhi - Di negara bagian Haryana dan Rajasthan yang terletak di bagian utara India, banyak desa yang dianggap menyandang nama 'memalukan', sehingga berusaha mengubah nama sejak bertahun-tahun lalu.

"Nama desa saya Ganda (artinya kotor atau jelek dalam bahasa Hindi)," tulis Harpreet Kaur kepada PM India Narendra Modi pada 2016 dalam surat resmi meminta pergantian nama.

Perempuan muda ini menambahkan bahwa nama desanya selalu memicu ejekan yang memalukan dari siapa pun yang dia temui.

"Situasinya sangat buruk sampai-sampai kerabat kami sendiri tak henti mengejek kami," papar Kaur.

Pada tahun 2017, PM Modi pun mengubah nama desa itu menjadi Ajit Nagar yang tampil dengan bangga di negara bagian Haryana di India utara.

Kepala dewan desa, Lakwinder Ram, mengatakan bahwa selama bertahun-tahun mereka telah berusaha mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk perubahan nama itu.

"Setelah tak berhasil, kami berpikir kalau ada anak muda yang menyurati langsung kepada PM Modi, mungkin bisa berhasil," katanya.

"Tidak ada satu orang pun di desa kami yang tidak ingin nama itu diganti," imbuhnya.

Penduduk setempat mengatakan bahwa Ganda mendapatkan nama itu ketika banjir melanda beberapa dekade yang lalu. Seorang perwira tentara yang berkunjung setelahnya melihat puing-puing berserakan di mana-mana dan ia menyebut betapa kotornya daerah itu dengan menyebut kata 'ganda'. Sejak itu, kata mereka, nama tersebut menempel dengan desa itu.

Ram menambahkan bahwa nama desa itu membuat banyak jodoh pemuda atau pemudi setempat jadi 'macet' juga, karena para calon pasangan mereka, atau keluarganya, tidak mau mendapatkan mempelai dari desa dengan nama yang menghinakan begitu.

"Setelah berganti nama menjadi Ajit Nagar, kami merasa sangat lega sekarang," katanya.

Namun, Ganda sama sekali bukan kasus unik. Para tokoh dan perwakilan dari lebih dari 50 desa sejak beberapa waktu ini merecoki pemerintah India untuk mengubah nama desa, bahkan kota mereka, dengan alasan yang beragam.

Beberapa nama dianggap rasis, ada yang karena terkait masalah politik, ada yang dianggap memalukan bagi penghuninya.

"Permintaan dari sekitar 40 desa telah dipenuhi dan diwujudkan," kata Krishan Kumar, seorang pejabat senior pemerintah federal.

Antara lain, desa bernama Kinnar yang berarti waria dalam bahasa Hindi, diganti menjadi Gaibi Nagar pada 2016.

Dan di negara bagian Rajasthan, sebuah desa di distrik Alwar dulunya bernama Chor Basai. Tapi karena kata 'chor' dalam bahasa Hindi berarti pencuri, maka kata itu dihilangkan, dan sekarang nama resmi desa itu adalah Basai saja.

Tetapi proses untuk mengubah nama desa tidak selalu mudah. Sebab, pemerintah negara bagian harus cukup diyakinkan untuk membawa kasusnya ke pemerintah federal India, yang memiliki kewenangan terakhir.

Tetapi sebelum mereka dapat mengabulkan permintaan tersebut, berbagai lembaga lain harus pula diperoleh persetujuannya, seperti dinas kereta api dan pos serta Survey of India. Ini untuk memastikan bahwa nama baru yang diusulkan tidak ada di tempat lain di India.

Bagi penduduk desa Lula Ahir --istilah penghinaan bagi orang cacat dalam bahasa Hindi-- proses perubahan itu penuh dengan birokrasi. Kepala desa itu terlebih dahulu menyurati pemerintah negara bagian Haryana pada tahun 2016, bahwa mereka tidak bahagia dengan nama desa.

"Kami ingin mengubah nama desa kami menjadi Dev Nagar," kata Virender Singh, ketua dewan desa.

Setelah menunggu selama enam bulan, mereka menerima surat penolakan, karena desa bernama Dev Nagar sudah ada di tempat lain di negara ini.

Kemudian, dewan desa memutuskan untuk mencoba sekali lagi dengan nama lain, yakni Krishan Nagar.

Pada Juli tahun lalu, mereka mengira peruntungan mereka telah berubah ketika menteri utama negara bagian mengumumkan bahwa desa tersebut sudah memiliki nama baru. Namun ternyata keputusan itu belum secara resmi disetujui oleh pemerintah pusat. Disebutkan bahwa permintaan tersebut masih 'sedang dalam proses'.

"Kami harus menunggu dan menunggu sejak itu," kata Singh sambil mengangkat bahu.

India bukan negara yang asing dengan perubahan nama tempat. Dalam suatu gelombang perubahan beberapa waktu lalu, sejumlah nama kota diganti. Misalnya Bombay menjadi Mumbai, Kalkuta menjadi Kolkata, Madras menjadi Chennai, dengan alasan masing-masing.

Ada pula yang karena alasan politik, banyak di antaranya berkaitan dengan kebangkitan nasionalisme Hindu di negara yang selama ratusan tahun dikuasai para maharaja Islam itu. Misalnya kota Allahabad diubah menjadi Prayagraj.

Kota lebih kecil dan kurang dikenal, Mughalsarai, dinilai berbau Islam juga karena didasarkan pada Maharaja Mughal, diubah menjadi Upadhyaya, seorang filsuf Hindu. [BBC]

Komentar

x