Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 27 Maret 2019 | 08:21 WIB

Presiden Jinping: Taiwan Harus Bergabung ke China

Rabu, 2 Januari 2019 | 15:05 WIB

Berita Terkait

Presiden Jinping: Taiwan Harus Bergabung ke China
Presiden China Xi Jinping - (Foto: EPA)

INILAHCOM, Beijing--Presiden China Xi Jinping mendesak rakyat Taiwan untuk menerima bahwa pulau itu 'harus dan akan' bergabung lagi dengan China. Demikian laporan yang dikutip dari BBC, Rabu (2/1/2018).

Dalam pidato yang menandai 40 tahun sejak mencairnya hubungan lintas-selat antara China-Taiwan, Xi Jinping mengulangi seruan Beijing untuk penyatuan secara damai atas dasar satu negara dua sistem--sebagaimana terjadi dengan Hong Kong.

Namun, dia menegaskan bahwa China memiliki hak untuk menggunakan kekuatan (militer) untuk mewujudkan penyatuan itu.

Taiwan sejauh ini memiliki pemerintahan dan sistem sendiri dan secara de-facto merdeka, namun Beijing menganggap pulau itu sebagai provinsi yang memisahkan diri.

Presiden Jinping mengatakan kedua belah pihak adalah bagian dari keluarga China yang sama dan kemerdekaan Taiwan adalah 'arus sejarah yang merugikan dan berhadapan dengan jalan buntu'.

"Orang Taiwan harus memahami bahwa kemerdekaan hanya akan membawa kesulitan," katanya, seraya menambahkan Beijing tidak akan pernah mentolerir segala bentuk kegiatan yang mempromosikan kemerdekaan Taiwan.

Sebaliknya, katanya, penyatuan adalah "persyaratan yang tak terhindarkan untuk kebangkitan besar rakyat China".

Dia juga menekankan bahwa hubungan dengan Taiwan adalah bagian dari politik dalam negeri China' dan bahwa "campur tangan asing tidak dapat ditoleransi".

Beijing,"Memiliki hak untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan terhadap kekuatan luar yang mengganggu reunifikasi damai dan kegiatan separatis Taiwan," katanya.

Satu hari menjelang pidato Jinping, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan Beijing harus menerima keberadaan Taiwan dan menggunakan cara damai untuk menyelesaikan perbedaan di antara mereka.

"Saya ingin menyerukan kepada China untuk secara jernih menghadapi kenyataan keberadaan Republik China di Taiwan," kata Tsai, merujuk pada nama resmi pulau itu.

China harus,"Menghormati tekad bulat 23 juta orang tentang kebebasan dan demokrasi, dan harus menggunakan cara yang damai dan sesuai kepentingan kedua belah pihak untuk menangani perbedaan kita," tambahnya.

Pada bulan November, partai politik perempuan pertama yang jadi presiden Taiwan itu menderita kemunduran besar dalam pemilihan regional, yang dianggap Beijing sebagai pukulan terhadap sikap separatisnya.

Taiwan adalah negara demokrasi yang memiliki pemerintahan sendiri dan dalam pengertian apa pun telah bertindak sebagai negara merdeka sejak 1950, ketika pemerintah nasionalis China dikalahkan oleh pasukan komunis dan melarikan diri ke sana dari daratan China.

Namun China menganggap pulau itu sebagai provinsi pemberontak bukan negara berdaulat--yang suatu hari akan sepenuhnya dipersatukan kembali dengan China daratan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing menjadi semakin keras dengan klaimnya.

Dalam diplomasi internasional, Cina menegaskan bahwa negara-negara lain hanya dapat memiliki hubungan diplomatik dengan China atau Taiwan, bukan keduanya.

Beijing telah berhasil mendorong banyak negara untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan membuat banyak sekutu Taiwan beralih membangun hubungan diplomatik dengan mereka.

Tahun lalu, China juga memaksa maskapai penerbangan asing dan hotel-hotel internasional untuk mendaftarkan Taiwan sebagai bagian dari China di situs web mereka. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x