Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 18 Desember 2018 | 19:50 WIB

Swiss dan Bisnis Senjata (2)

Oleh : Laporan Herdi Sahrasad | Jumat, 2 November 2018 | 18:08 WIB

Berita Terkait

Swiss dan Bisnis Senjata (2)
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Bern - Para jurnalis mencatat bahwa secara politik Swiss menganut demokrasi langsung; secara kultural negara ini mengenal empat bahasa. Dan saat kita melintasi beberapa kanton, kita akan merasa seperti sedang mengunjungi empat negara: Italia (di Ticino), Jerman (di Zurich), Prancis (di Jenewa) dan keturunan unik Kekaisaran Romawi di Grissons.

Dubes Indonesia untuk Swiss Prof Muliaman Hadad menilai, kantor PBB di Jenewa membuat prestise Swiss makin menaik. Yang menarik, Swiss hanya menjadi anggota PBB di tahun 2002. Jauh lebih menarik lagi, Swiss bukan merupakan anggota Uni Eropa sampai saat ini.

Kembali ke bidang bisnis persenjataan, Swiss mau melebarkan sayapnya. Dan, asal tahu saja, tahun ini, Swiss mau cabut larangan beli senjata oleh negara-negara yang dilanda perang saudara di Timur Tengah.

Dulu, negara-negara yang bertumpah darah di Timur Tengah dilarang oleh Peraturan Pemerintah Swiss untuk membeli senjata buatan mereka. Tapi di 2018 ini, peraturan itu bakal dicabut sebab kebijakan itu tahun ini akan segera diakhiri, dianggap sudah usang dan tidak akan berlaku lagi.

Partai penguasa Swiss mau melonggarkan aturan ekspor-senjata. Partai Rakyat Swiss (SVP) baru-baru ini menyatakan bahwa mereka akan meminta pemerintah untuk mengurangi dan melonggarkan peraturan tentang ekspor senjata. Dua komite di parlemen sudah menandatangani kebijakan baru, yang akan dapat diterapkan oleh pemerintah melalui peraturan perundang-undangan.

Negara-negara yang sebelumnya terlarang untuk membeli senjata Swiss, selanjutnya akan dapat membeli senjata dari Swiss jika kebijakan lama resmi dihapus dengan terbitnya peraturan baru. Partai penguasa dan para pendukung industri senjata api menilai bahwa rakyat membutuhkan dukungan pemerintah dalam peningkatan lapangan kerja pada sektor industri pertahanan.

"Aturan baru bisnis senjata, juga akan memberikan dampak positif bagi negara-negara konflik. Itu akan memungkinkan negara-negara dalam konflik bersenjata untuk mendapatkan sistem pertahanan rudal buatan Swiss, untuk melindungi warganya," ujar Werner Salzmann, ketua komite keamanan majelis rendah parlemen Swiss, kepada Reuters.

Rencana pelonggaran impor senjata ini sesungguhnya sempat digoyang isu tidak sedap. Laporan media Swiss mengungkap bahwa granat buatan Swiss kemungkinan jatuh ke tangan militan di Suriah.

Granat tangan buatan perusahaan negara Swiss, RUAG, diduga kuat ditimbun anggota kelompok teroris ISIS di Suriah. Granat itu diduga dijual kepada Uni Emirat Arab pada 15 tahun lalu. Surat Kabar SonntagsBlick melaporkan dugaan itu pada 2 September 2018. Mereka menyertakan bukti berupa foto-foto senjata yang disita dari para milisi di Suriah.

Dalam sebuah pernyataan, RUAG mengatakan granat yang ditimbun ISIS, kemungkinan bagian dari 250.000 buah yang dikirimkan 15 tahun lalu ke Uni Emirat Arab. Bisa jadi, granat itulah yang dipindahkan ke Suriah.

Pemerintah Swiss menghentikan pengiriman suku cadang senjata ke Arab Saudi. Hal itu menyusul kasus kematian jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Namun, hingga kasus Khashoggi menyeruak, Swiss masih memasok suku cadang serta amunisi sistem pertahanan udara dan senjata api untuk penggunaan pribadi.

Pemerintah Swiss akan mengikuti perkembangan kasus tersebut yang berpotensi membalikkan keputusannya di kemudian hari. Khashoggi merupakan jurnalis yang kerap mengkritik kebijakan Saudi. Kolumnis Washington Post yang berusia 59 tahun itu tewas ketika memasuki konsulat di Istanbul pada 2 Oktober. Pernyataan terbaru penyelidik Turki mengatakan, Khashoggi dicekik sesaat ia memasuki konsulat, kemudian dimutilasi.

Saudi dalam penyataan yang berubah-ubah membantah keterlibatannya sebagai otak pembunuhan tersebut. Kasus itupun sangat memperkeruh hubungan antara Saudi dan Barat sehingga memicu perdebatan internasional tentang pengiriman senjata ke kerajaan ultra-konservatif itu. "Pemerintah Swiss pernah menghentikan ekspor senjata ke Saudi pada 2009," ujar Juru bicara Departemen urusan Ekonomi Swiss Fabian Maienfisch.

Granat buatan korporasi RUAG di Swiss diekspor ke Uni Emirat Arab dan juga muncul di Suriah. Pada tahun 2012, granat mereka ditemukan dalam penguasaan Tentara Pembebasan Suriah, yang memerangi dan memberontak kepada pemerintah Bashar al-Assad. Perusahaan Swiss lainnya, Rheinmetall juga memproduksi senjata api dan diekspor ke Timur Tengah dan Asia.

Swiss ternyata negeri netral dan damai yang berbisnis senjata dimana ekspor senjatanya meruak ke berbagai belahan dunia. Bagi Swiss, bisnis adalah bisnis, dan sah saja, termasuk bisnis senjata yang memberikan keuntungan besar meski di tengah perang seperti di Suriah dan Negara Timur Tengah lainnya, sudah pasti senjata itu memakan korban manusia. [Habis/berbagai sumber]


Lihat juga: Swiss dan Bisnis Senjata (1)

Komentar

Embed Widget
x