Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 18 November 2018 | 15:25 WIB

Dua Nelayan RI Diculik di Perairan Malaysia

Kamis, 13 September 2018 | 17:20 WIB

Berita Terkait

Dua Nelayan RI Diculik di Perairan Malaysia
Nelayan Indonesia di perairan menangkap ikan. - (Foto: bbc)

INILAHCOM, Jakarta--Penculikan terhadap nelayan Indonesia kembali terjadi. Kali ini, dua nelayan warga Indonesia diculik kelompok bersenjata di perairan Pulau Gaya, Semporna, Sabah, Malaysia.

Berdasarkan laporan Kementerian Luar Negeri RI, seperti dilaporkan BBC, Kamis (13/9/2018), penculikan berlangsung pada Selasa (11/9/2018) ketika kedua WNI tersebut bekerja di kapal penangkap ikan berbendera Malaysia, Dwi Jaya I.

Kedua WNI tersebut bernama Samsul Saguni (40) dan Usman Yunus (35). Keduanya berasal dari Sulawesi Barat.

Menurut Lalu Muhammad Iqbal, selaku direktur perlindungan WNI dari Kemenlu RI, Menlu Retno Marsudi telah melakukan komunikasi dengan Menlu Malaysia guna menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kejadian tersebut dan meminta jaminan keamanan bagi WNI yang bekerja di wilayah Sabah, khususnya yang bekerja sebagai nelayan.

"Pada tanggal 13 September 2018 Konsulat Jenderal RI Kota Kinabalu dan Konsulat RI Tawau mengeluarkan himbauan kepada seluruh WNI di Sabah yang bekerja di kapal penangkap ikan untuk tidak melaut hingga situasi keamanan dipandang kondusif dan diperolehnya jaminan keamanan dari otoritas setempat," papar Lalu.

Kemenlu, tambah Lalu, juga telah menyampaikan kabar insiden penculikan kepada keluarga kedua WNI di Sulawesi Barat dan memberikan pendampingan bagi keluarga, berkoordinasi dengan Pemda setempat.

Sejauh ini, belum diketahui identitas kelompok bersenjata yang menculik kedua WNI.

Namun, Kemenlu RI mencatat sudah ada 11 nelayan WNI yang diculik di perairan Sabah sebelumnya.

Pada Januari lalu, dua WNI dibebaskan dari penyanderaan kelompok Abu Sayyaf di Sulu, Filipina Selatan. Mereka diculik dari dua kapal ikan milik warga negara Malaysia yang berbeda pada 5 November 2016 di perairan Kertam, Sabah, Malaysia.

Bagaimanapun, penculikan pada 11 September 2018 terjadi manakala pemerintah Indonesia, Filipina, dan Malaysia telah memberlakukan kesepakatan trilateral pada 2017.

Melalui kesepakatan itu, TNI mendirikan Pusat Komando Militer di Tarakan, Kalimantan Utara, dan secara rutin menggelar patroli gabungan bersama militer Filipina dan Malaysia.

Kesepakatan tersebut bermula dari upaya ketiga negara untuk menanggulangi kerapnya perompakan kapal dan penyanderaan anak buah kapal di perairan Laut Sulu, Filipina Selatan, oleh kelompok Abu Sayyaf. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x