Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 15:55 WIB

Uno, ET dan 'Et Tu,Brutu'

Oleh : Opini: Khiramsyah Aradea | Sabtu, 8 September 2018 | 12:57 WIB

Berita Terkait

Uno, ET dan 'Et Tu,Brutu'
(Foto: istimewa)

LEBIH dari dua ribu tahun lalu, sang politisi ulung Romawi itu terperanjat, saat sebilah mata belati menghunjam lambungnya. Ia terbelalak. Betapa tidak, bila sang penujah itu tak lain kemenakannya sendiri.

"Et tu,Brutu? Kau juga ternyata, Brutus?" teriak Julius Caesar. Kita tahu, teriakan itu bersipongang ribuan tahun, melampaui milenia, hingga sampai ke zaman kita. Teriakan yang mengekalkan imaji kita tentang betapa hinanya pengkhianatan.

Dua dekade lalu sebagian orang di Indonesia meneriakkan kalimat itu kepada serombongan menteri yang setelah lama ikut menggerogoti negeri, akhirnya ramai-ramai cuci tangan, menjauh untuk lepas dari segala kemungkinan didekatkan kepada mendiang Presiden Soeharto yang saat itu tengah dianggap membawa sampar.

Hari-hari ini kita tak tahu apakah teriakan itu akan kembali digaungkan, lagi mengingatkan Kita akan betapa gampangnya laku khianat dijalankan. Akankah Sandiaga Salahuddin Uno meneriakkan kalimat itu kepada sahabatnya sejak remaja, Erick Thohir, menyusul kesediaan Erick Thohir (ET) menjadi ketua tim sukses alias Tim pemenangan Jokowi-MA di tingkat nasional?

Barangkali terkesan ada dramatisasi di sini, sebab apa yang dilakukan ET tidaklah bisa sepenuhnya disebut laku tak terpuji. Tetapi di negeri tempat unggah-ungguh, masih sering dijadikan ukuran 'laku lampah', etika tak bisa sepenuhnya dijorokkan ke sudut ruangan. Sementara apa yang dilakukan ET memang dominan dipersoalkan di area etika tersebut.

ET adalah sahabat Uno sejak remaja, waktu keduanya dipertemukan hoby yang sama: bola basket. Persahabatan itu kian kuat manakala keduanya sama-sama berkuliah di AS. Belakangan, pertemanan tersebut dikekalkan kongsi-kongsi usaha di antara keduanya. Konon, manakala ET mendirikan usaha ini dan itu, selalu juga terdapat andil dan bantuan dari Uno, demikian sebaliknya.

Silaturahmi di antara keduanya kian agung karena kemudian melibatkan istri dan keluarga masing masing. "Istri saya dan istri ET juga bersahabat, mereka satu arisan," kata Uno di sebuah situs berita.

Jujur saja, saya menguatirkan persahabatan dan silaturahmi itu akan tergerus di waktu-waktu mendatang. Bukan apa-apa, keterbelahan di masyarakat Kita karena politik telah begitu gila sejak 2014 lalu.

Bolehlah Anda berkata bahwa itu hanya terjadi di kalangan bawah, para pendukung mereka. Bukan di tingkat para elit dan aktor politik. Namun Saya rasa tidak. Bukankah dengan gampang Kita bisa mendapatkan bukti bahwa justru aktor aktor utama dalam drama politik lima tahun terakhir ini pun tak sedikit yang mengalami degradasi?

Banyak tokoh yang dulu Kita anggap naif, belakangan ternyata tak kurang culas. Tak sedikit tokoh yang lima tahun lalu Kita pikir solusi, justru kini menjadi biang dari keroknya masalah yang tetap eksis tak henti. Waktu telah membuka tabir bahwa yang dulu Kita anggap genuine dan asli, ternyata tak lebih sekadar tokoh politik yang genit dan ranggi. Kita berharap dapat pemimpin, tetapi yang kita temukan tak lebih sekadar pengumpul puja puji dan aneka citra khayali!

Tentu, tak ada aturan baku yang dilanggar ET dalam kesediaannya itu. Sebab ganjil jika norma dan etika diganjar dengan sanksi hukum. Namun urusan etika berhubungan erat dengan rasa malu. Rasa malu, ukuran sejak azali yang dibenamkan Tuhan ke dalam nurani.

"Jika engkau tak bermalu," kata Nabi Muhammad SAW dalam kitab kumpulan Hadits Kanz Al Ummal,"lakukan apa pun sekehendakmu!" Kalimat beliau tegas Dan mengancam. [*]

Komentar

Embed Widget
x