Find and Follow Us

Minggu, 16 Juni 2019 | 18:13 WIB

Uber Beralih ke Sepeda, Bukan Lagi Mobil

Selasa, 28 Agustus 2018 | 09:54 WIB
Uber Beralih ke Sepeda, Bukan Lagi Mobil
Sepeda listrik produk Jump - (Foto: Mashable)

INILAHCOM, New York--Perusahaan penyedia transportasi, Uber mengungkapkan rencana untuk mengurangi penyewaan mobil dan memusatkan bisnisnya pada penyediaan skuter elektrik dan sepeda.

Bos Uber, Dara Khosrowshahi mengatakan bahwa moda transportasi individual lebih cocok untuk perjalanan dalam kota.

Ia juga memperkirakan banyak pengguna transportasi yang menempuh perjalanan lebih singkat di masa yang akan datang, yang lebih cocok dengan sepeda.

"Selama jam sibuk, sangat tidak efisien mengangkut 1 orang dengan mobil hanya untuk jarak, misalnya 1 kilometer," katanya kepada Financial Times, seperti dikutip dari BBC, Selasa (28/8/2018).

"Secara finansial, untuk jangka pendek mungkin itu bukan sebuah kemenangan bagi kami, namun untuk jangka panjang, secara strategis, itulah cara tepat yang ingin kami capai," tambahnya.

Perusahaan penyedia transportasi ini telah berinvestasi di sejumlah perusahaan sepeda pada tahun lalu, seperti Jump,pabrik sepeda listrik yang kini memiliki cabang di delapan kota AS, diantaranya New York dan Washington, dan segera membuka perusahaannya di Berlin.

Perusahaan ini juga bekerja sama dengan Lime, sebuah perusahaan skuter listrik, sambil membangun kerjasama di bidang lain seperti angkutan umum dan pengiriman barang.

Khosrowshahi mengakui bahwa keuntungan yang diraih Uber ini memang sedikit bila dibandingkan mobil. Namun hal itu menurutnya akan diimbangi nantinya karena para pengguna lebih sering menggunakan aplikasi perjalanan yang lebih pendek jaraknya.

"Kami siap untuk masuk eceran per unit jangka pendek demi meraih keuntungan jangka panjang," katanya.

Ia juga mengakui bahwa para pengemudi Uber bisa mengalami kerugian dari rencana tersebut, namun mengatakan dalam jangka panjang mereka akan mendapat keuntungan dari perjalanan yang lebih panjang dan menguntungkan.

Uber, yang mengalami kerugian sebesar US$4,5 miliar (atau sekitar Rp65 triliun) tahun lalu, berada di bawah tekanan untuk memperbaiki keuangannya.

Penghasilan dari bisnis taksi meningkat, tetapi biaya ekspansi ke berbagai bidang baru seperti penyedia jasa sepeda dan pengiriman makanan membuat perusahaan itu mengalami banyak kerugian.

Tekanan regulasi juga mengancam pertumbuhan di beberapa pasar.

Bulan ini New York memutuskan untuk memberlakukan larangan sementara pada izin penyewaan kendaraan untuk mengatasi kemacetan.

London ingin mengikuti jejak New York. Walikota Shadiq Khan mengatakan berencana memberlakukan larangan serupa. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x