Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 21 November 2018 | 04:48 WIB

Atasi Keuangan, Malaysia Minta Bantuan China

Selasa, 21 Agustus 2018 | 06:15 WIB

Berita Terkait

Atasi Keuangan, Malaysia Minta Bantuan China
PM Malaysia Mahathir Mohamad dan PM China Li Keqiang - (Foto: gbcode)

INILAHCOM, Beijing--Perdana Menteri Mahathir Mohamad meminta China membantu mengatasi masalah keuangan Malaysia.

Hal ini dikemukakan Mahathir dalam lawatan lima hari di China, hari Senin (20/8/2018), kunjungan pertamanya ke negara ini sejak terpilih kembali menjadi pemimpin Malaysia Mei lalu.

Dalam keterangan pers di Beijing bersama PM China Li Keqiang, Mahathir mengatakan negaranya memerlukan dukungan China.

"Kami juga berharap China memahami masalah-masalah yang dihadapi Malaysia dewasa ini," kata Mahathir.

"Saya berharap China akan bersimpati dengan masalah-masalah yang harus kami pecahkan dan mungkin membantu mengatasi masalah keuangan kami," tambahnya.

Mahathir belum lama ini membekukan proyek infrastruktur senilai lebih dari US$22 miliar, sekitar Rp321 triliun yang disepakati oleh pemerintahan Najib Razak dan pemerintah China setelah mempertanyakan butir-butir kesepakatan antara Kuala Lumpur dan Beijing.

Ia mempertanyakan kemanfaatan proyek-proyek infrastruktur yang didanai China tersebut dan menyatakan khawatir proyek-proyek ini akan membuat Malaysia berutang ke China.

Kerja sama ekonomi menjadi salah satu fokus lawatan Mahathir ke China.

PM China, Li Keqiang, mengatakan perluasan kerja sama akan membuat neraca perdagangan yang lebih besar antara kedua negara dan menegaskan China siap menambah impor minyak sawit dari Malaysia untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

China adalah pasar ekspor terbesar ketiga Malaysia setelah India dan Uni Eropa.

Ia mengatakan sejumlah konsensus dan kesepakatan awal dalam sejumlah hal--di antaranya swap mata uang, impor minyak sawit, karet, dan durian--membuktikan bahwa keduanya negara tetap akan bersahabat dalam jangka panjang.

Dalam kesempatan ini, Mahathir menegaskan bahwa perdagangan bebas harus adil (fair).

"Kami tidak ingin ada versi baru kolonialisme di mana negara-negara miskin tak bisa bersaing dengan negara-negara kaya," kata Mahathir, yang belum lama ini merayakan ulang tahun ke-93. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x