Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 15 Desember 2018 | 04:29 WIB

Hina Burka, Mantan Menlu Inggris Tolak Minta Maaf

Rabu, 8 Agustus 2018 | 18:45 WIB

Berita Terkait

Hina Burka, Mantan Menlu Inggris Tolak Minta Maaf
Mantan Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson - (Foto: dailystar)

INILAHCOM, London--Mantan Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson menolak meminta maaf atas pernyataannya yang menyebut perempuan berbusana burka mirip kotak surat berjalan, sementara para tokoh Muslim mendesak Partai Konservatif memecatnya.

BBC melaporkan, Rabu (8/8/2018), pendiri Forum Muslim Konservatif, Lord Sheikh mengatakan bahkan tuntutan permintaan maaf saja tidak cukup. Dia meminta agar partai melucuti Johnson dari posisinya sehingga ia tidak bisa lagi mewakili Partai Konservatif yang populer sebagai Partai Tory itu.

Dalam sebuah artikel, Boris Johnson mengatakan perempuan Muslim yang mengenakan burka "terlihat bagai kotak surat" dan membandingkannya dengan "para perampok bank". Seorang sumber mengatakan Johnson bersikukuh atas pendapatnya itu.

Seorang sumber yang dekat dengan Johnson mengatakan: "Kita tidak boleh jatuh ke dalam perangkap untuk membungkam perdebatan tentang masalah-masalah yang sulit. Kita harus membicarakannya dengan lantang. Jika kita gagal berbicara untuk nilai-nilai liberal, maka kita hanya akan memberikan dasar kepada kaum reaksioner dan ekstremis."

Dalam artikelnya di harian Daily Telegraph, Boris Johnson mengatakan cadar yang menutupi sepenuh wajah penuh tidak boleh dilarang, tetapi menurutnya memang tampak "konyol".

Perdana Menteri Theresa May telah mendukung ketua Partai Konservatif, Brandon Lewis, yang menuntut Johnson meminta maaf. May mengatakan pernyataan itu "jelas menyinggung".

Lord Sheikh, mantan penasihat Perdana Menteri terdahulu, David Cameron, mengatakan kepada BBC Newsnight: "Ambil kewenangan dari dia (Boris Johnson). Kenapa tidak? Dia bukan manusia super, dia anggota partai. Ketua partai dan perdana menteri punya hak untuk bertindak. Langkah (jika menindak Johnson) tidak berlebihan, dan itu hal yang ingin saya lihat."

Boris Johnson adalah seorang tokoh konservatif terkemuka. Ia pernah menjadi walikota London yang populer, dan telah lama dipandang sebagai kandidat potensial untuk kepemimpinan Partai Konservatif.

Dia memimpin kampanye keluar Uni Eropa atau Brexit yang sukses dalam referendum Uni Eropa tahun 2016, dan mengundurkan diri sebagai menteri luar negeri bulan lalu sebagai protes terhadap rencana Brexit yang ditetapkan PM Theresa May.

Atas artikelnya di Daily Telegraph, Boris Johnson dituduh menggunakan isu cadar perempuan Muslim sebagai "sepakbola politik" untuk mendongkrak ambisi kepemimpinannya.

Mantan ketua Partai Konservatif Baroness Warsi, perempuan Muslim pertama yang duduk di kabinet Inggris, menyerukan tindakan disipliner terhadap Johnson jika dia tidak meminta maaf.

Tapi Laura Perrins, dari situs web Perempuan Konservatif, menganggap seruan untuk tindakan lebih lanjut terhadap Johnson sebagai "omong kosong otoriter yang harus kita tolak". [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x