Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 19 Oktober 2018 | 23:13 WIB

4 Juta Orang Kehilangan Kewarganegaraan India

Selasa, 31 Juli 2018 | 09:15 WIB

Berita Terkait

4 Juta Orang Kehilangan Kewarganegaraan India
Imigran ilegal di India - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, New Delhi--Pemerintah federal India telah mengeluarkan sebuah nota yang mencabut status kewarganegaraan dari setidaknya empat juta orang di Negara Bagian Assam.

Nota yang dikeluarkan Badan Nasional Pendaftaran Warga (NRC) itu berisi daftar nama orang-orang yang bisa membuktikan bahwa mereka telah datang ke Assam pada 24 Maret 1971, ketika Bangladesh didirikan.

Pemerintah India berkilah proses ini penting guna mendepak migran ilegal dari Bangladesh.

Karena khawatir akan muncul aksi kekerasan, para penjabat mengatakan tidak ada pendeportasian dalam waktu dekat.

Pemerintah India menegaskan proses banding akan bisa dilakukan warga yang tidak termasuk di dalam daftar. Namun, selagi menempuh proses, jutaan warga tersebut tidak jelas status kewarganegaraannya sampai ada keputusan akhir.

Kasus ini membuat Hasitun Nissa gelisah, seseorang yang BBC temui beberapa hari lalu, sebelum nota resmi dari pemerintah dikeluarkan.

Tak pernah terlintas dalam benaknya untuk tinggal di luar Assam, dikenal sebagai daerah dataran banjir.

Assam merupakan tempat guru sekolah berumur 47 tahun ini menghabiskan masa kecilnya, saat-saat dimana dia menimba ilmu, tempat dia melangsungkan pernikahan, dan tempat dirinya membesarkan empat orang anak.

Dia sadar status kewarganegaraanya akan dicabut pemerintah, yang bakal diikuti dengan perlucutan hak tanah, haknya memilih, dan kebebasan.

Dia tidak sendiri. Sekitar empat juta warga Bengali - sebuah komunitas minoritas yang punya bahasanya sendiri di Assam - menjadi korban akibat proses birokrasi yang lama dan berbelit.

Pemerintah India di Delhi mengatakan bahwa pendaftaran penduduk harus dilakukan.

Berdasarkan Kesepakatan Assam, sebuah perjanjian yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Rajiv Gandhi pada 1985, mereka yang tidak mampu menunjukkan bukti bahwa mereka datang ke Assam sebelum 24 Maret 1971, maka akan dihapuskan dari daftar pemilih dan dideportasi.

Namun, para aktivis mengatakan bahwa NRC digunakan sebagai dalih serangan kaum nasionalis Hindu dan kelompok garis keras Assam terhadap komunitas Bengali yang sah di negara bagian itu, sebagian besar di antara mereka adalah Muslim.

Seperti halnya Hasitun, banyak orang suku Bengali lainnya hidup di lahan basah sepanjang sungai Brahmaputra, kemudian berpindah ke bagian lainnya apabila tingkat air meningkat.

Jika pun ada, dokumen yang mereka miliki kerap kali tidak akurat.

Pejabat India mengatakan bahwa warga ilegal dari Bangladesh bercampur dalam populasi Bengali, seringkali bersembunyi menggunakan berkas palsu. Hanya dengan pemeriksaan dokumen secara menyeluruh, pemerintah akan mampu mengusir mereka keluar.

Namun, juru kampanye Bengali, Nazrul Ali Ahmed bersikukuh bahwa NRC mengandung unsur agenda tersembunyi lainnya.

"Ini mutlak merupakan sebuah konspirasi untuk melakukan kekejaman," ungkapnya kepada BBC.

"Mereka secara terbuka mengancam untuk mengusir Muslim, dan kejadian yang pernah kita lihat di Myanmar bisa saja terjadi terhadap kita yang berada di sini," tambahnya. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x