Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 Agustus 2018 | 19:29 WIB

Ini Pria Kesepian di Dunia

Oleh : - | Sabtu, 21 Juli 2018 | 12:19 WIB
Ini Pria Kesepian di Dunia
Pria berusia sekitar 50 tahun itu tinggal seorang diri di hutan Amazon, Brasil. - (Foto: BBC)

INILAHCOM, Braslia--Sebuah rekaman video yang sangat langka memperlihatkan aktivitas seorang anggota suku terasing di Brasil yang dijuluki "pria paling kesepian di dunia", demikin BBC melaporkan, Sabtu (21/7/2018).

Pria berusia sekitar 50 tahun itu tinggal seorang diri di hutan Amazon, Brasil, selama 22 tahun, setelah seluruh anggota sukunya dilaporkan mati terbunuh.

Video itu - yang difilmkan dari kejauhan dan dirilis oleh Funai--sebuah lembaga bentukan Pemerintah Brasil terkait penduduk asli--memperlihatkan seorang pria sedang memotong pohon dengan menggunakan sebilah kapak.

Rekaman video itu telah menyebar ke seluruh dunia, tetapi keberadaan pria ini bukanlah sekedar memanjakan rasa ingin tahu orang-orang yang menontonnya.

Lembaga Funai telah memantau pria itu dari kejauhan sejak tahun 1996, dan mereka perlu memperlihatkan bahwa dia masih hidup untuk memperbarui peraturan pembatasan bagi orang-orang luar yang ingin mendatangi wilayah yang dia tempati, yaitu di Rondonia, yang berbatasan dengan Bolivia.

Daerah tersebut--yang mencakup sekitar 4.000 hektar--dikelilingi oleh ladang-ladang yang dikelola pihak swasta dan sudah terjadi praktek penggundulan hutan.

Dengan adanya pengetatan aturan itu, diharapkan dapat mencegah siapa pun yang hendak masuk ke wilayah tersebut karena dapat membahayakan keberadaan pria itu.

Konstitusi Brasil secara khusus menyebutkan bahwa penduduk aslik memiliki hak atas tanah yang ditinggalinya.

"Mereka harus tetap membuktikan bahwa orang ini masih hidup," kata Fiona Watson, pimpinan lembaga penelitian dan advokasi Survival International, yang mendedikasikan untuk melindungi hak-hak masyarakat suku terasing.

"Ada juga motivasi politik untuk merilis video itu," katanya kepada BBC. "Parlemen (Brasil) didominasi oleh kelompok bisnis; Anggaran untuk Funai telah dipangkas. Ada ancaman besar terhadap hak-hak kaum pribumi di Brasil."

Keberadaan para petani yang terus tumbuh di kawasan di sekitar lokasi suku terasing telah mengklaim kawasan itu milik mereka, kata lembaga Funai.

Seperti apa sosoknya?

Hanya ada informasi secuil tentang latar belakang pria itu, walaupun dia pernah diungkap dalam berbagai laporan penelitian, liputan media dan buku berjudul The Last of the Tribe: The Epic Quest to Save a Lone Man in the Amazon karya jurnalis AS Monte Reel.

Pria itu digolongkan sebagai orang yang tidak pernah melakukan kontak dengan orang luar. Artinya tidak ada orang luar yang pernah berbicara dengannya--sejauh yang diketahui.

Dia diyakini sabagai satu-satunya orang pribumi yang selamat setelah enam kelompok suku di wilayah itu diserang oleh petani pada tahun 1995.

Latar belakang sukunya tidak pernah disebutkan, dan tidak diketahui bahasa apa yang digunakan dalam keseharian.

Selama bertahun-tahun, media di Brasil menjulukinya sebagai "the Hole Indian", karena dia membuat parit yang dalam--kemungkinan digunakan untuk menjebak hewan atau lokasi persembunyian.

Pada masa lalu, dia juga membuat pondok jerami dan peralatan buatan tangan, seperti obor dan panah.

Dalam bahaya besar

Mayoritas orang-orang dari suku pria itu diperkirakan telah dibinasakan pada tahun 1970-an dan 80-an, setelah dibangun jalan raya di dekat lokasi mereka tinggal, yang menyebabkan peningkatan permintaan lahan demi tujuan bisnis.

Saat ini, para petani dan penebang liar masih menginginkan keberadaan tanah yang mereka tinggali.

Pria itu juga bakal menghadapi "pistoleros", sebuah istilah yang merujuk pada senjata api yang digunakan oleh kelompok bersenjata yang disewa untuk kepentingan merebut tanah mereka.

Pada tahun 2009, perkampungan sementara yang didirikan oleh Funai digeledah oleh kelompok bersenjata. Mereka menyebarkan ancaman di lokasi itu.

Hutan Amazon Brasil adalah rumah bagi suku-suku terasing, menurut Survival International.

Kontak dengan dunia luar juga beresiko bagi mereka, yang dapat berakibat kematian akibat penularan virus atau bakteri dari dunia luar.

"Di satu sisi kita tidak perlu tahu segala hal tentang dia," kata Watson mengomentari sosok pria itu.

"Tapi keberadaan dia adalah simbol dari apa yang hilang di sekitar kita, yaitu keragaman manusia yang luar biasa ini." [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget

x