Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 15 Desember 2018 | 05:52 WIB

Rencana Bunuh PM Inggris Terbongkar

Kamis, 19 Juli 2018 | 09:41 WIB

Berita Terkait

Rencana Bunuh PM Inggris Terbongkar
Naa'imur Rahman - (Foto: BBC)

INILAHCOM, London--Seorang pemuda putus kuliah yang ingin membalas dendam atas kematian pamannya di Suriah telah didakwa berencana melakukan penyerangan ke Downing Street, London, dan membunuh Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Pemuda bernama Naa'imur Rahman itu menerima dakwaan di Pengadilan Pidana Inggris setelah dirinya terjebak dalam operasi penyamaran yang melibatkan Badan Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI), badan intelijen Inggris (MI5), dan kepolisian. Demikian laporan yang dikutip dari BBC, Kamis (19/7/2018).

Operasi itu berlangsung sesaat setelah Rahman meminta bantuan dari seorang anggota kelompok radikal untuk menyerang kediaman perdana menteri Inggris di London.

Rahman kemudian menemui dua orang dan berulang kali meminta bom.

Yang tak diketahui pemuda berusia 20 tahun itu, orang yang dia minta bantuan adalah seorang agen FBI yang sedang menyamar.

Selain merencanakan pembunuhan, Rahman mengaku mencoba membantu seorang pria meninggalkan Inggris untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

Musim panas tahun lalu Rahman menjadi tunawisma di London setelah berseteru dengan ibunya di London dan keluarga dekatnya di Walsalltempat dia dibesarkan.

Tiga tahun sebelumnya, Rahman dimasukkan ke program deradikalisasi Inggris, Channel, lantaran ada kekhawatiran dia telah dicuci otak oleh pamannya.

Ketika dia diselidiki tahun lalu atas kasus dugaan mengirim pesan teks bernada seksual kepada seorang gadis di bawah umur, pihak intelijen mendapat temuan dari ponselnya bahwa ternyata dia telah menjalin kontak dengan pamannya.

Musadikur Rohaman adalah paman Rahman. Yang bersangkutan bertolak dari Inggris ke Suriah pada 2014 lalu.

Dalam persidangan di Pengadilan Pidana Inggris terungkap bahwa Rohaman mendorong keponakannya untuk menyerang Inggris dan telah mengirim metode pembuatan bom dan bahan kelompok ekstrem lainnya.

Akan tetapi, pada Juni 2017, Rohaman tewas akibat serangan drone yang mengincar kelompok ISIS di Raqqa.

Tatkala Rahman mengetahui kematian pamannya, menurut jaksa, pemuda tersebut merencanakan balas dendam.

Untuk mendapat sokongan, Rahman menjalin kontak dengan anggota ISIS di media sosial. Namun, dia tidak tahu bahwa orang yang disangkanya anggota ISIS sejatinya adalah agen FBI.

Agen tersebut kemudian memberikan informasi mengenai Rahman kepada tim MI5. Para personel badan keamanan itu lalu meyakinkan Rahman bahwa mereka merupakan anggota ISIS.

"Saya ingin melakukan bom bunuh diri di parlemen," kata Rahman kepada para personel MI5 yang menyamar.

"Saya ingin mencoba membunuh Theresa May. Yang saya perlukan sekarang adalah anggota yang bisa mengakomodasi saya."

Walau Rahman kurang becus karena tidak mendapat pelatihan cukup, MI5 khawatir Rahman tetap nekad.

Karena itu, kepala badan antiterorisme meluncurkan operasi penyamaran untuk mengumpulkan bukti-bukti niatannya.

Operasi tersebut diawali tim MI5 dengan mengenalkan Rahman kepada seorang anggota polisi di London yang menyamar sebagai penyalur senjata kelompok ISIS.

Pertemuan antara Rahman dengan "Shaq" di dalam mobil direkam secara diam-diam oleh MI5 dan belakangan para juri di pengadilan dapat menyaksikannya.

Pada pertemuan tersebut, Rahman menceritakan soal kematian pamannya. Dia kemudian meminta truk berisi bom dan senjata api, walau kemudian dia mengaku tidak bisa menyetir atau melepaskan tembakan.

Rahman kemudian menegaskan tekadnya untuk menyerang Downing Street dan berusaha membunuh Theresa May. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x