Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 16:21 WIB

Maria Butina

"Agen Rusia Tawarkan Seks Demi Jabatan"

Kamis, 19 Juli 2018 | 09:20 WIB

Berita Terkait

Maria Butina - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Washington DC--Seorang perempuan yang dituduh berprofesi sebagai agen intelijen Rusia menawarkan hubungan seks guna mendapat jabatan dalam sebuah organisasi khusus di Amerika Serikat, demikian BBC, Kamis (19/7/2018) mengutip para pejabat AS.

Maria Butina, yang ditangkap pada Minggu (15/7/2018), menghadiri sidang pengadilan AS di Washington DC.

Hakim Deborah Robinson menyatakan Butina harus ditahan dan dilarang ke luar negeri karena pemerintah AS telah membuktikan tiada jaminan dia akan menghadiri persidangan jika dibebaskan.

Kini Butina menghadapi tuduhan beraksi sebagai agen asing dan berkonspirasi melawan pemerintah asing.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam penahanan Butina seraya mengatakan tindakan AS sengaja dirancang untuk mengesampingkan "hasil-hasil positif" dalam pertemuan antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump di Helsinki, pada Senin (16/7/2018).

Pengacara perempuan berusia 29 tahun itu mengungkap kliennya telah bekerja sama dengan Pemerintah AS selama beberapa bulan.

Tuduhan terhadap Butina

Dokumen pengadilan mengungkap Butina selama ini hidup bersama seorang warga AS berusia 56 tahun--yang disebut sebagai US Person 1. Butina disebut menjalin "hubungan pribadi" dengan pria ini.

"Namun hubungan ini tidak mencerminkan hubungan kuat dengan Amerika Serikat karena Butina tampak memperlakukannya sebagai aspek yang diperlukan dalam menjalankan aktivitasnya," tulis dokumen pengadilan.

Dalam sejumlah fotonya di media sosial, Butina tampak berpose bersama Paul Erickson, pegiat konservatif di South Dakota yang dalam arsip umum disebut berusia 56 tahun.

Butina telah "mengutarakan ketidaksukaannya melanjutkan hidup bersama" pria AS ini," tulis dokumen yang disita FBI.

Para jaksa penuntut mengatakan Butina tampak tidak menganggap hubungannya bersama pria tersebut dengan serius karena "dalam setidaknya satu kesempatan, Butin menawarkan seorang individu selain US Person 1 hubungan seks demi jabatan di organisasi khusus".

Dokumen-dokumen persidangan tidak menyebut secara rinci organisasi mana yang dimaksud. Namun, di media sosial, Butina tampak kerap menghadiri acara-acara Asosiasi Senjata Api Nasional (NRA).

Pengacara Butina membantah semua tuduhan yang diarahkan ke kliennya.

Siap perintah lanjutan

Departemen Kehakiman AS menuduh Butina bekerja "di bawah perintah dan kendali" seorang pejabat senior Rusia yang namanya tidak disebut dalam berkas dakwaan.

Dokumen pengadilan menyebutkan pejabat Rusia itu merupakan atasan langsung Butina dan yang melatihnya melalui pesan-pesan daring.

"Saat ini semuanya harus senyap dan hati-hati," sebut catatan yang diduga ditulis Butina melalui pesan pribadi Twitter, sebulan sebelum pemilihan presiden AS pada 2016 lalu.

Pada malam sebelum pemungutan suara, dokumen pengadilan menyebutkan Butina mengirim pesan ke pejabat Rusia. Isinya, "Saya akan tidur. Di sini jam 03.00. Saya siap untuk perintah lanjutan."

Departemen Kehakiman mengatakan Butina mencoba menciptakan jalur komunikasi "terselubung" guna "menembus proses pengambilan kebijakan nasional AS".

Semasa beraktivitas di AS, Butina disebut membina hubungan dengan sejumlah kelompok konservatif pro-senjata.

Pada suatu masa dalam pemilihan presiden, dia dan pejabat Rusia dituduh mencoba menjembatani pertemuan antara Trump dan Putin. Namun, upaya itu gagal.

Lalu, saat Trump mengemukakan visi-misinya kepada publik pada Juli 2015, Butina bertanya Trump yang saat itu masih berstatus kandidat presiden mengenai pandangannya terhadap Rusia.

Tahun berikutnya, Butina bertemu Donald Trump Jr di sebuah konvensi NRA.

Akun media sosial Butina menampilkan foto-foto dirinya menghadiri acara pertemuan dengan sejumlah politisi terkemuka AS, termasuk Gubernur Wisconsin, Scott Walker.

Latar belakang

Butina masuk ke AS menggunakan visa pelajar F-1. Berdasarkan laman LinkedIn, dia baru saja meraih gelar pascasarjana bidang hubungan internasional dari American University di Washington DC.

Sejumlah orang yang pernah berkenalan dengan Butina mengatakan perempuan itu rajin membangun jejaring dan kisah hidupnya memikat kaum konservatif yang dia temui dalam berbagai acara di AS.

Pada 2015, dia bercerita ke sebuah acara radio AS bahwa dirinya dibesarkan di hutan Siberia dan diajari berburu oleh ayahnya.

Setelah sempat menjadi pemilik toko mebel waralaba, dia mengaku pindah ke Moskow dan mendirikan organisasi bernama Hak Menyandang Senjata--yang mengadvokasi kepemilikan senjata perorangan di Rusia.

Siapa atasannya?

Berdasarkan laporan media AS, atasan langsung Butina tampaknya adalah Alexander Torshin, wakil gubernur Bank Sentral Rusia dan mantan senator Rusia dari partai politik pimpinan Putin.

Torshin diincar oleh sanksi-sanksi Departemen Keuangan AS pada April lalu.

Butina menampilkan beberapa foto bersama Torshin di akun media sosialnya selama beberapa tahun terakhir.

Bahkan dalam pengajuan visa ke AS, Butina menyebut dia pernah bekerja sebagai asisten khusus Torshin.

Beberapa narasumber mengatakan kepada media AS bahwa alasan mengapa Torshin tidak turut diseret ke ranah hukum AS karena para penyelidik amat mungkin menghendaki Butina bekerja sama melawan dia dan sejumlah pejabat Rusia.

Pada jumpa pers di Gedung Putih, juru bicara Sarah Sanders berkata: "Kami tengah memantau persoalan itu, tapi ini adalah proses yang panjang." [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x