Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 Agustus 2018 | 19:31 WIB

Trump Kini Amini Rusia Intervensi Pilpres AS

Oleh : - | Rabu, 18 Juli 2018 | 13:20 WIB
Trump Kini Amini Rusia Intervensi Pilpres AS
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin - (Foto: voa)

INILAHCOM, Washington DC--Presiden AS Donald Trump, kini mengamini kesimpulan badan-badan intelijen AS bahwa Rusia mengintervensi pemilihan presiden pada 2016 lalu, walau sehari sebelumnya membela Presiden Vladimir Putin.

Trump berkilah bahwa dia salah omong pada Senin (16/7/2018) lalu dan sebenarnya berniat berkata bahwa tiada alasan mengapa bukan Rusia yang campur tangan pada Pilpres 2016.

Trump kemudian menambahkan bahwa dirinya "punya keyakinan penuh dan mendukung" badan-badan intelijen AS.

Kontroversi mengemuka setelah Trump bertemu dengan Presiden Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia.

Berikut ucapan Trump sebagaimana dikutip Gedung Putih dalam jumpa pers seusai pertemuan tersebut:

REPORTER: Presiden Putin membantah keterlibatan dalam campur tangan pemilihan pada 2016. Segenap badan intelijen AS berkesimpulan bahwa Rusia telah melakukannya. Pertanyaan pertama saya kepada Anda, siapa yang Anda percayai?

TRUMP: Orang-orang saya datang ke sayamereka berkata bahwa menurut mereka itu adalah Rusia. Saya bertemu Presiden Putin, dia berkata itu bukan Rusia. Yang saya katakan adalah: Saya tidak melihat alasan apapun mengapa itu demikian.

Trump mengaku telah meninjau transkrip ucapannya dan menyadari dia perlu mengklarifikasi.

"Kalimatnya seharusnya: 'Saya tidak melihat alasan mengapa saya tidak' atau 'mengapa itu bukan Rusia'. Semacam kalimat negatif ganda," ujarnya.

"Saya menerima kesimpulan komunitas intelijen bahwa campur tangan Rusia pada pemilihan 2016 telah berlangsung. Bisa jadi orang lain. Ada begitu banyak orang di luar sana," tambahnya.

Trump berkata campur tangan itu tidak punya dampak terhadap pemilihan, yang dia menangi setelah mengalahkan Hillary Clinton.

Bagaimanapun, Trump tidak merespons ketika wartawan bertanya apakah dia akan mengecam Putin.

Baik kubu Republik maupun Demokrat tercengang ketika Trump mengeluarkan pernyataan yang memihak Rusia dan mengabaikan intelijen negaranya sendiri.

Bahkan salah satu pendukung Trump di kubu Republik, Newt Gingrich, menilai komentar Trump adalah "kesalahan paling serius dalam masa kepresidenannya".

Setelah Trump berbalik berpihak pada badan intelijen AS, Pemimpin Senat AS dari kubu Demokrat, Chuck Schumer, menuding sang presiden merupakan pengecut. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget

x