Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 21 November 2018 | 18:50 WIB

Trump Terima Keluarga Pembunuhan Migran Ilegal

Sabtu, 23 Juni 2018 | 19:09 WIB

Berita Terkait

Trump Terima Keluarga Pembunuhan Migran Ilegal
Presiden Donald Trump dan keluarga korban pembunuhan imigran ilegal. - (Foto: bbc)

INILAHCOM, Washington DC--Di tengah kontroversi kebijakan pemisahan keluarga pendatang ilegal, Presiden AS Donald Trump menerima perwakilan sejumlah keluarga yang menjadi korban pembunuhan oleh orang-orang yang masuk ke AS secara ilegal.

"Kepergian orang-orang yang Anda cintai tidaklah sia-sia," kata Trump di hadapan kelompok yang menyebut dirinya Angel Families di Gedung Putih, demikian BBC melaporkan, Sabtu (23/6/2018).

Pertemuan ini terjadi di tengah kecaman global terhadap kebijakan pemisahan lebih dari 2.000 anak-anak dari orangtua mereka yang masuk ke negara itu secara ilegal.

Belakangan, Trump akhirnya tunduk pada tekanan publik dan mengoreksi kebijakan dengan menandatangani perintah eksekutif untuk "menjaga keluarga agar tetap bersama" di tahanan-tahanan para migran.

Tetapi perintah eksekutif terbaru ini tidak menyinggung keluarga-keluarga yang sudah dipisahkan oleh kebijakan sebelumnya.

Dia juga tetap memberlakukan kebijakan "toleransi nol" yang akan menuntut secara pidana siapa pun yang melintasi perbatasan secara ilegal.

"Ini adalah warga negara AS yang secara permanen terpisah dari orang-orang yang mereka cintai," kata Trump, Jumat (22/6/2018) waktu setempat, sebelum memperkenalkan anggota keluarga korban.

"Saya tidak bisa membayangkan peristiwa yang mereka alami, tetapi saya berjanji untuk bertindak dengan kekuatan yang kami miliki," tandasnya.

Trump juga menekankan bahwa pemerintah akan bersikap total dalam menjaga perbatasan demi keamanan warga.

"Dan, kami akan mengakhiri krisis imigrasi ini sekali dan untuk selamanya," tambah presiden.

Aura Wilkerson, yang putranya tewas pada tahun 2010 oleh seorang imigran gelap, mengatakan: "Tidak satu pun dari anak-anak kami memiliki waktu barang semenit untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan, kami tidak cukup beruntung untuk dipisahkan selama lima hari atau 10 hari. Kami dipisahkan secara permanen," tegas Wilkerson

Pada 2017, jajak pendapat yang dilakukan media Gallup menunjukkan bahwa hampir separuh orang AS meyakini bahwa kehadiran migran gelap meningkatkan tingkat kejahatan.

Namun banyak penelitian lainnya yang menemukan bahwa yang benar adalah sebaliknya, yaitu warga asli AS yang lebih cenderung melakukan kejahatan ketimbang imigran.

Warga asli AS juga diketahui cenderung lebih banyak yang menjalani hukuman di penjara-penjara.

Hasil penelitian lainnya yang mencakup empat dekade membandingkan tingkat migrasi dengan tingkat kejahatan.

Para peneliti menemukan bahwa kehadiran migran ilegal tampaknya terkait dengan penurunan kejahatan kekerasan seperti pembunuhan atau perampokan.

"Hasilnya menunjukkan bahwa kehadiran migran tidak meningkatkan kriminal dan, kenyataannya, perampokan, pencurian, dan pembunuhan lebih rendah di tempat-tempat di mana tingkat kehadiran migran lebih tinggi," kata penulis utama surat kabar itu, Robert Adelman.

Sementara, hasil penelitian pada 2017 oleh Cato Institute menemukan bahwa tingkat incarceration (penahanan) untuk penduduk asli AS adalah 1,53%, dibandingkan dengan 0,85% untuk kaum migran tidak berdokumen dan 0,47% untuk imigran legal.

Sekitar 2.300 anak migran ilegal telah dipisahkan dari keluarganyasejak kebijakan "toleransi nol" Trump dimulai pada Mei. Mereka ditempatkan di pusat-pusat penempatan yang dikelola oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan.

Beberapa tempat penampungan, termasuk tiga di Texas, merupakan rumah bagi anak-anak yang berusia di bawah lima tahun.

Sekitar 500 anak telah dipersatukan kembali dengan keluarga mereka sejak Mei, kata seorang pejabat Keamanan Dalam Negeri.

Tetapi perintah eksekutif ini tidak menyinggung keluarga-keluarga yang sudah dipisahkan oleh kebijakan sebelumnya.

Foto-foto yang merekam kondisi anak-anak yang menangis, akibat dipisahkan dari orang tuanya, telah memicu protes dan melahirkan gelombang kecaman dunia internasional.

Sebelumnya, Presiden Trump mengatakan "hal ini tidak dapat diatasi melalui perintah eksekutif." Menurutnya hanya Kongres yang dapat mengatasi kebijakan itu dengan merumuskan perundangan reformasi imigrasi. Namun akhirnya Trump berubah pikiran.

Pemimpin kongres dari partai Republik, Paul Ryan mengatakan DPR akan melakukan pemungutan suara untuk mengesahkan undang-undang yang menjaga keluarga untuk bisa tetap bersama.

Namun pembahasan RUU itu ditunda pada Jumat dan akan dibahas lagi pada minggu depan. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x