Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 19 November 2018 | 08:37 WIB

Di California

Bunuh Diri dengan Bantuan Dokter Meningkat

Sabtu, 23 Juni 2018 | 14:15 WIB

Berita Terkait

Bunuh Diri dengan Bantuan Dokter Meningkat
Pasien di sebuah rumah sakit di California - (Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, California--Para pejabat kesehatan California, AS melaporkan bahwa 374 penderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan telah melakukan bunuh diri tahun lalu dengan obat yang diresepkan oleh dokter.

Departemen Kesehatan Publik California mengatakan 577 orang pasien mendapat obat untuk bunuh diri tahun lalu, tapi tidak semua menggunakannya. Demikian laporan yang dikutip dari VOA, Sabtu (23/6/2018).

Peraturan yang mulai diberlakukan pertengahan tahun 2016 itu memungkinkan orang dewasa minta obat untuk mengakhiri kehidupan apabila dokter menentukan bahwa dia akan meninggal dalam enam bulan atau kurang, karena penyakit yang dideritanya.

Dalam enam bulan setelah UU itu disahkan, 111 orang meninggal dengan cara itu.

Dari 374 pasien yang meninggal tahun lalu, 90 persen berumur lebih dari 60 tahun, 95 persen punya asuransi kesehatan dan 83 persen tinggal di rumah perawatan atau hospis.

UU yang mengatur bunuh-diri-dengan-bantuan-dokter itu disahkan di California setelah Brittany Maynard, 29 tahun, yang menderita kanker otak, terpaksa pindah ke negara bagian Oregon tahun 2014 supaya ia bisa mengakhiri hidupnya di sana.

Oregon adalah negara bagian pertama yang mengizinkan apa yang disebut "Death with Dignity" bagi orang-orang yang penyakitnya tidak bisa disembuhkan.

Bunuh diri dengan bantuan dokter juga legal di Colorado, Montana, Vermont, Washington dan Washington DC, ibukota AS.

Para pengecam mengatakan UU itu mendorong pengambilan keputusan yang tergesa-gesa dan terjadinya kesalahan diagnosis.

Kebanyakan orang yang mendapat resep dokter seperti itu berpendidikan universitas dan telah mendapat perawatan hospis, karena rumah sakit biasa tidak bisa lagi mengobati penyakit mereka.

Ashley Cardenas, Direktur Compassion and Choices mengatakan, ini "membantah klaim oleh para penentangnya, bahwa pasien yang menggunakan obat bunuh diri itu adalah orang-orang yang tidak berpendidikan dan tidak punya pilihan lain". [voa/lat]

Komentar

Embed Widget
x