Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Juli 2018 | 03:17 WIB
 

Korea Utara Ubah Materi Propaganda

Semua Poster anti-Amerika di Pyongyang Dicabut

Oleh : Andreas Illmer | Sabtu, 23 Juni 2018 | 13:14 WIB
Semua Poster anti-Amerika di Pyongyang Dicabut
Poster-poster menanggapi KTT Korut-Korsel dengan menyuarakan perdamaian dan penyatuan kedua negara. - (Foto: bbc)

INILAHCOM, Pyongyang--Korea Utara (Korut) tampaknya telah mengubah tekanan pada materi propagandanya dalam beberapa bulan terakhir.

Spanduk dan poster yang dipajang di ibukota dan kota-kota lainnya selama ini menampilkan sosok AS sebagai penjajah yang brutal dan Korea Selatan (Korsel) atau Jepang sebagai antek Washington, demikian laporan yang dikutip dari BBC, Sabtu (23/6/2018).

Namun demikian, sejumlah pengunjung di negara itu melihat bahwa poster-poster itu telah digantikan oleh propaganda yang isinya mendorong kemajuan ekonomi dan upaya mendekatkan antara Korsel-Korut.

Beberapa surat kabar terkemuka yang selama ini dikontrol ketat oleh negara juga memperlihatkan adanya pergeseran pada materi pemberitaannya.

Perkembangan terbaru di Korut ini dianggap sebagai awal yang tidak lepas dari mencairnya hubungan diplomatik negara itu dengan AS dan Korsel yang ingin ditonjolkan kepada rakyatnya.

Sebagian besar warga Korut memiliki akses sangat sedikit terhadap informasi, sehingga propaganda negara memiliki dampak yang jauh lebih besar jika dibandingkan negara-negara lain di dunia.

Dengan menempatkan AS sebagai musuh, propaganda yang sering muncul menggambarkan bahwa negara itu siap mengirim rudal nuklir dan bala tentaranya untuk menyerang AS.

Poster-poster itu diciptakan untuk melahirkan patriotisme, membangun rasa percaya diri dan menekankan bahwa perjuangan ditujukan demi kejayaan bangsa.

"Poster-poster penuh kemarahan biasanya mengemuka ketika terjadi persoalan pelik di tingkat internasional," kata Andray Abrahamian dari Griffith University kepada BBC. "Tapi biasanya materi poster-poster seperti itu akan perlahan-lahan hilang saat ketegangan mereda."

Jadi, ketika suasana di tingkat internasional mengarah kepada hubungan yang positif, maka penekanan pada materi propaganda otomatis akan mengikuti trend seperti itu.

Setelah sempat dibayangi-bayangi ancaman perang, Korut menggelar pertemuan bersejarah dengan Korsel dan AS.

Mereka kemudian berjanji--meskipun dalam istilah yang samar--untuk menghapus program senjata nuklirnya dan sepakat merajut perdamaian.

Seorang pemandu turis di Korut, yang menemani sebuah kelompok wisata yang mengunjungi negara itu, mengatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, materi propaganda telah diubah.

Sebagai ganti terhadap materi yang memojokkan AS, saat ini mereka memilih menitikberatkan pada pesan-pesan yang lebih positif, misalnya dengan memuji Deklarasi Panmunjom yang ditandatangani dalam KTT antar-Korea.

"Semua poster anti-Amerika yang biasanya saya lihat di sekitar alun-alun Kim Il-sung dan di toko-toko, kini diganti semuanya," kata Rowan Beard, manajer Young Pioneer Tours, kepada kantor berita Reuters. "Selama lima tahun bekerja di Korea Utara, saya belum pernah melihat poster-poster itu dicabut."

Tentu saja, poster-poster baru sama banyaknya dengan propaganda lama, tetapi isinya lebih menyoroti tema yang berbeda: reunifikasi Korea, kemajuan ekonomi dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Perubahan seperti ini mengikuti logika: Apabila perundingan dengan Korsel dan AS dianggap sebagai awal kemungkinan kerjasama di masa depan, maka dua eks musuh bebuyutan itu harus ditampilkan dengan cara yang lebih netral.

Kalau tidak, mengapa Kim Jong-un dapat duduk bersama dan berunding dengan para pemimpin negara-negara itu? Begitulah logikanya.

"Pyongyang membutuhkan suasana damai dan poster semacam itu akan membantu menciptakannya," kata Fyodor Tertitskiy dari NK News.

Bahkan pernak-pernik anti-AS yang dulunya dijual kepada turis sebagai suvenir mulai sulit ditemukan di pasaran.

Misalnya, Anda tidak akan dapat lagi menemukan kartu pos, poster atau perangko yang menggambarkan rudal Korut yang diterbangkan untuk menerjang Washington.

"Sekarang, semuanya telah dihilangkan," kata Simon Cockerell, manajer di Koryo Tours, kepada Reuters.

Perubahan itu juga terlihat dari kebijakan redaksi surat kabar Korut terkemuka, Rodong Sinmun.

Selama ini, tidak ada kebebasan pers di Korut. Semua media dikontrol ketat dan segala sesuatu yang diterbitkan atau disiarkan akan diperiksa secara ketat agar sesuai kebijakan pemerintah.

Koran-koran di Korut selama ini secara teratur melaporkan segala sesuatu yang negatif tentang AS, seperti dengan menggambarkan Washington sebagai musuh. Mereka kemudian memperlihatkan keterlibatan AS dalam berbagai konflik dunia seperti di Suriah.

Tetapi menjelang pertemuan pada 12 Juni lalu antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump, surat kabar yang biasanya mengkritisi AS kemudian menahan diri untuk menyerang negara adidaya itu.

Sejak KTT tersebut, surat kabar terkemuka di Korut itu menampilkan liputan besar-besaran dari pertemuan itu dan merayakan Kim sebagai negarawan dunia yang menyuarakan perdamaian.

Seperti bertolak belakang dengan kebiasaan media Korut, TV dan surat kabar mereka lantas melaporkan perjalanan Kim baru-baru ini--ke Cina dan Singapura--dalam waktu yang hampir bersamaan, padahal sebelumnya, bakal membutuhkan waktu berhari-hari bagi warga Korut untuk membacanya.

"Saat ini, AS digambarkan seolah-olah negara yang normal," jelas Peter Ward, ahli dan penulis mengenai Korut untuk NK News. "Semua referensi yang menganggap semua tindakan AS sebagai tindakan bermusuhan, kini menghilang dari tampilan media Korut."

Bahkan, menurut Peter Ward, media di Korut menampilkan laporan yang "netral" perihal keputusan AS keluar dari Dewan HAM PBB.

"Ini sangat menarik," dia menjelaskan. "Secara umum, liputan netral atau positif biasanya dikenakana pada negara-negara yang memiliki hubungan bersahabat dengan Pyongyang."

Dengan perubahan yang sejauh ini ditunjukkan Korut mengenai materi propagannya, masih belum jelas apakah akan berlangsung selamanya atau sesaat. [bbc/lat]

Komentar

x