Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 21 November 2018 | 04:33 WIB

Media Cina Olok-olok Kebijakan Tarif Impor Trump

Senin, 18 Juni 2018 | 07:13 WIB

Berita Terkait

Media Cina Olok-olok Kebijakan Tarif Impor Trump
(Foto: GettyImages)

INILAHCOM, Beijing--Media Cina mengolok-olok Presiden AS Donald Trump atas kebijakannya memberlakukan tarif bea masuk 25% pada barang-barang dari Cina. Demikian BBC, Minggu (17/6/2018).

Salah satu media Cina menyindir Presiden AS itu dengan menulis, "orang bijak membangun jembatan tetapi orang bodoh membangun tembok".

Trump mengumumkan pemberlakukan bea masuk itu Jumat (15/6/2018) lalu dengan alasan Cina melakukan pencurian hak cipta intelektual. Tarif bea masuk itu akan mencapai nilai US$50 miliar (lebih dari Rp700 triliun).

Cina langsung mengambil tindakan balasan dan mengatakan akan memberlakukan tarif bea masuk tambahan sebesar 25% pada 659 barang dari AS yang juga akan mencapai nilai yang sama, US$50 miliar.

Pasar saham jatuh setelah pengumuman yang memicu kekhawatiran terjadinya perang dagang itu.

Sebelumnya, AS telah memperingatkan bahwa mereka akan memberlakukan tarif lebih tinggi lagi apabila Cina melakukan langkah balasan.

Trump mengatakan pengenaan pajak masuk baru itu "penting untuk mencegah transfer lebih jauh teknologi dan kekayaan intelektual AS secara tidak adil ke Cina, yang (dimaksudkan untuk) akan melindungi lapangan kerja di AS."

Berbagai produk Cina yang dihantam kebijakan ini berkisar dari mulai ban pesawat ke turbin hingga mesin cuci piring komersial.

Media Cina, yang dikontrol ketat pemerintah, seakan melancarkan serangan bersama terhadap langkah-langkah baru AS itu.

"Mengikuti jalan perluasan dan keterbukaan adalah tanggapan terbaik Cina terhadap sengketa perdagangan dengan AS. Dan, juga merupakan tanggung jawab terhadap dunia yang harus diemban negara-negara besar," kata sebuah editorial di kantor berita Xinhua. "Orang bijak membangun jembatan, orang bodoh membangun tembok," tulisnya.

Pengguna media sosial dengan cepat mencuitkan komentar ringan, banyak di antaranya mengacu ke Tembok Besar Cina.

Sementara itu, surat kabar resmi Partai Komunis, People's Daily, mengecam apa yang disebutnya sebagai "obsesi pemerintah AS untuk memainkan peran tercela sebagai pengganggu ekonomi global".

Adapun Global Times, menyebut Trump mengacaukan tatanan dunia untuk menarik para pemilihnya yang menganggap bahwa Trump berjuang untuk mereka.

Namun, China Daily mengungkapkan harapan bahwa hal terburuk masih bisa dihindari. "Mengingat seringnya pemerintahan Donald Trump berubah-ubah kebijakan, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa perang dagang akan dimulai," katanya.

Serangan berbagai media itu terjadi setelah Cina mengumumkan tarif bea masuk senilai US$34 miliar (Rp478 triliun) terhadap berbagai barang AS, yang mencakup produk pertanian, mobil dan produk kelautan yang juga akan berlaku mulai 6 Juli.

Cukai atas atas barang-barang AS lainnya akan diumumkan kemudian, tulis Xinhua.

Bea masuk yang diberlakukan AS dikenakan pada lebih dari 800 produk Cina dengan nilai yang sama, US$34 miliar per tahun, akan mulai berlaku pada 6 Juli.

Gedung Putih mengatakan akan merundingkan produk lain yang akan dikenakan tarif sebesar US$16 miliar, untuk diterapkan kemudian.

AS menyatakan ingin Cina menghentikan praktik-praktik perdagangan yang diduga memaksakan alih kekayaan intelektual--desain dan gagasan produk--ke perusahaan Cina, misalnya mensyaratkan bahwa perusahaan asing yang hendak mengakses pasar Cina harus berbagi kepemilikan dengan mitra lokal.

Namun, banyak ekonom dan pelaku bisnis di AS mengatakan, pemberlakuan tarif itu cenderung justru berdampak buruk terhadap sejumlah sektor yang pemerintah mencoba melindunginya, karena bergantung pada Cina untuk suku cadang atau perakitannya.

AS sudah mengumumkan rencana pemberlakuan tarif itu sejak beberapa waktu, setelah melakukan penyelidikan tentang praktik (dugaan pencurian) kekayaan intelektual oleh Cina.

AS menerbitkan rancangan daftar sekitar 1.300 produk Cina yang jadi sasaran pemberlakuakn bea tarif pada April lalu. Daftar yang dirilis pada Jumat lalu sedikit berkurang, setelah menampung berbagai masukan.

Kebijakan ini menimbulkan berbagai tanggapaan politik: mendapat pujian dari berbagai politikus Demokrat yang sebetulnya merupakan lawan politik Trump, dan sebaliknya ditentang oleh sebagian Partai Republik, yang biasanya mendukung kebijakan perdagangan bebas. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x