Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 22 Oktober 2018 | 23:22 WIB

KTT Kim-Trump, Wanita Ini Tampil Lagi di TV Korut

Rabu, 13 Juni 2018 | 11:33 WIB

Berita Terkait

KTT Kim-Trump, Wanita Ini Tampil Lagi di TV Korut
Ri Chun-hee menyampaikan berita tentang KTT Kim-Trump - (Foto: bbc)

INILAHCOM, Singapura--Wajah perempuan ini sering tampil di stasiun televisi pemerintah Korea Utara. Dia adalah Ri Chun-hee, penyiar veteran yang diperkirakan berusia 70-an tahun dan paling sering mengumumkan peristiwa-peristiwa penting di negara tersebut.

Ri Chun-hee sering membawakan berita-berita penting seperti uji coba nuklir, peluncuran roket dan turut menyampaikan peringatan tentang kejahatan yang dilakukan negara-negara Barat.

Selama lebih dari 40 tahun ia bisa menangis, tertawa dan berteriak ketika membacakan berita di Korean Central Television.

Ia pula yang tampil lagi di stasiun televisi pemerintah untuk mengumumkan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong-un melakukan pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura, Selasa (12/6/2018) ini.

Ri mungkin adalah pembaca berita paling terkenal di dunia. Tapi apa yang sebenarnya kita ketahui tentang dia?

Ciri khas Ri Chun-hee adalah pakaian tradisional Korea atau chima jeogori yang dikenakannya.

Namun, tak selamanya ia mengenakan baju berwarna merah muda. Saat ia membacakan berita tentang kematian para pemimpin Korut terdahulu, ia tampil emosional dengan mengenakan pakaian serba hitam.

Chun-hee bukan hanya menjadi penyiar berita semata, lebih dari itu ia menjadi sosok yang dipercaya dan dihormati para pemimpin Korea Utara.

Kim Jong-un secara pribadi kabarnya menginginkan Chun-hee menjadi orang yang menyampaikan pesan-pesan partainya ke seluruh dunia.

Ia juga adalah orang yang dipilih untuk mengumumkan kematian pemimpin sebelumnya, Kim Il-Sung dan Kim Jong-Il, di negara yang hanya memiliki satu partai tersebut.

Ketika membacakan berita, Chun-hee melakukan penghayatan luar biasa terhadap berita yang dibacakan, mulai dari berteriak sampai menangis.

Namun, sang penyiar ini bisa berbicara dengan gaya diktator yang tegas ketika ia menyampaikan pesan dari para pemimpin Korea Utara.

Chun-hee tinggal di Pyongyang, di mana wajahnya tampil di layar besar saat orang-orang menonton, bertepuk tangan, dan kadang-kadang menangis -ketika mengumumkan kematian tokoh penting.

Mungkin itu bukan air mata yang sesungguhnya, namun bentuk kesetiaan kepada negara yang jika tidak ditunjukkan akan dihukum mati.

Chun-hee dikatakan menikmati waktu luangnya dengan mengunjungi restoran-restoran dan tempat hiburan di luar ibukota Pyongyang.

Kehidupan di Korea Utara sangat sulit, warga sering mengalami pemadaman listrik dan lapangan kerja yang minim.

Lembaga bantuan kemanusiaan memperkirakan hingga dua juta orang meninggal sejak pertengahan tahun 1990-an karena kelaparan. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x