Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 21 November 2018 | 19:19 WIB

Geger Pemerasan Video Seks di Inggris

Minggu, 27 Mei 2018 | 08:24 WIB

Berita Terkait

Geger Pemerasan Video Seks di Inggris
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, London--Badan Nasional Pemberantas Kejahatan di Inggris (NCA) mengatakan, pihaknya menerima laporan tentang peningkatan jumlah korban pemerasa seks atau sextortion.

Mereka mengungkapkan, ada 1.304 kasus yang dilaporkan pada tahun 2017, naik dari 428 kasus pada tahun 2015 - meskipun jumlah korban sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi. Demikian laporan yang dikutip dari BBC, Sabtu (26/5).

Para korban kejahatan sextortion (darisex: seks, dan extortion: pemerasan) ini umumnya adalah remaja pria yang berusia belasan hingga duapuluhan tahun, yang dibujuk untuk memfilmkan diri mereka sendiri sambil melakukan tindakan seksual.

Adegan seks ini direkam secara diam-diam dan mereka diperas oleh kawanan penjahat.

Para penyelidik NCA mengatakan, 'puluhan ribu' orang terancam sextortion ini.

Penyelidik NCA menemui seorang laki-laki korban kasus ini dan sepakat untuk memanggilnya dengan nama Simon untuk melindungi jati dirinya.

"Kejadiannya, layar komputer dipasang terbalik agar saya bisa menonton video diri saya sendiri," kata Simon.

Simon, yang berusia dua puluhan, sebelumnya berkenalan dengan seorang perempuan di dunia maya yang ia pikir tertarik untuk menjalin hubungan dengannya.

Tak lama kemudian, mereka saling berkomunikasi melalui video, setelah itu ia pun semakin intim dengan perempuan itu. Hingga kemudian Simon setuju difilmkan saat melakukan masturbasi.

"Begitu saya melihat layar, saya tahu apa yang akan terjadi," kata Simon.

"Saya tahu hal semacam ini bisa terjadi, namun kita tidak pernah membayangkan itu terjadi pada kita sendiri. Mereka mengatakan: 'Kami minta 600 (sekitar Rp11 juta), kalau tidak kami akan mengirim video ini ke semua sanak saudara kamu, tutur Simon.

Simon baru menyadari bahwa dirinya menjadi korban pemerasan sebuah geng kriminal internasional, dan mereka kemungkinan besar berbasis di Filipina.

Mereka merekam adegan seksual tersebut, lalu mempertontonkannya kembali di hadapan Simon.

"Saya tidak tahu bagaimana mereka memperoleh nama-nama serta rincian daftar teman-teman, keluarga dan rekan kerja saya. Saat itu terasa begitu menakutkan. Segala sesuatunya menjadi sangat serius," ceritanya.

Simon awalnya menuruti keinginan kelompok kriminal itu dengan mengirimkan uang senilai 150 (atau sekitar Rp2,8 juta) ke sebuah rekening bank di Filipina. Ia berharap para pemeras itu tidak akan mengganggunya lagi.

Namun, ternyata mereka tidak berhenti sampai di situ.

Tiga hari kemudian mereka muncul lagi meminta tambahan uang. Simon lantas mengirimkan 150 lagi dan sejak saat itu ia tak mendengar kabar apapun dari mereka.

"Saya bukan saja merasa hancur, tetapi juga kecewa. Bahwa ada orang yang terpikir untuk melakukan hal ini kepada orang lain. Saya marah pada orang itu atas apa yang dia lakukan. Saya marah pada diri sendiri karena membiarkan hal itu terjadi. Pada dasarnya saya sangat bodoh," katanya.

"Saya cemas. Saya terguncang," lanjut Simon.

Sejak peristiwa itu, Simon melapor kepada pihak kepolisian dan mendapat saran tentang bagaimana menangkap sang pemeras jika mereka kembali menghubunginya lagi.

Badan Nasional Pemberantas Kejahatan mengatakan, saran mereka bagi siapapun yang mendapati dirinya diperas dengan cara seperti ini, sederhana saja. Jangan panik, jangan mengirimkan uang tebusan dan hubungi polisi.

Kasus sextortion adalah jenis kejahatan yang jarang dilaporkan dan banyak korban yang datang ke polisi kerap tidak tahu siapa yang memeras mereka atau bagaimana mendapatkan uang mereka kembali.

Itulah salah satu alasan bahwa jumlah korban sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi dibanding angka yang dilaporkan ke NCA.

Para penyelidik di lembaga tersebut yakin setiap tahunnya, di Inggris ,para pemeras memperoleh uang jutaan poundsterling dari para korbannya.

Roy Sinclair dari NCA mengatakan pada Newsbeat, "Puluhan ribu orang, terutama para remaja pria, terancam bahaya sextortion. Ada yang mengirim uang dalam jumlah yang sangat besar dan kami mengetahui setidaknya lima orang mengakhiri hidup mereka karena merasa tidak ada jalan keluar untuk mengatasinya."

Joanne Bocko dari satgas siber kepolisian Avon dan Somerset mengatakan banyak risiko serius bila melucuti pakaian di depan kamera.

"Anda harus waspada - begitu adegan kita direkam, maka rekaman itu beredar entah ke mana dan apa yang terjadi selanjutnya sudah berada di luar kendali Anda," katanya.

"Kejahatan ini kemungkinan besar dilakukan oleh kelompok kejahatan terorganisir di Filipina dan Maroko. Dan pekerjaan mereka adalah meraup uang dari para korban di seluruh dunia," lanjutnya.

Adapun seberapa serius masalah yang bisa ditimbulkan, dalam hal ini Joanne mengungkapkannya secara gamblang.

"Ada orang-orang yang mengakhiri hidupnya akibat tertimpa masalah seperti ini di Inggris. Jadi akibat yang bisa ditimbulkan bisa sangat, sangat serius. Bayangkan saja gambar-gambar Anda yang tidak senonoh atau bugil dikirimkan ke atasan Anda, teman-teman Anda, keluarga Anda. Ini bisa benar-benar menghancurkan dan mengerikan bagi orang-orang yang melihatnya," tuturnya.

"Kesimpulannya, kami menganjurkan kepada siapa pun agar jangan mau bugil di depan kamera. Tetapi kami tahu bahwa hal itu banyak terjadi," kata Bocko. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x