Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 17 Juli 2018 | 08:45 WIB
 

Usai Rusuh di Mako Brimob, Terbitlah Aksi Teror

Oleh : Fadhly Zikry | Kamis, 17 Mei 2018 | 04:00 WIB
Usai Rusuh di Mako Brimob, Terbitlah Aksi Teror
Kapolri Jenderal Tito Karnavian - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Publik tiba-tiba dihebohkan dengan kejadian rusuh di Markas Komando (Mako) Brigade Mobil (Brimob), Kelapa Dua, Depok, pada Selasa (8/5) pekan lalu. Rusuh tersebut dilakukan oleh para narapidana teroris (napiter) yang berada di blok C, tahanan Mako Brimob.

Berdasarkan keterangan dari Polri, rusuh tersebut disebabkan karena makanan. Sebelumnya beredar isu, bahwa insiden rusuh disebabkan penggeledahan terhadap salah seorang isteri teroris yang akan membesuk suaminya. Kemudian muncul pula isu pelemparan Al-Qur'an oleh petugas sehingga menyebabkan para napiter marah.

Namun isu tersebut dibantah oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Tito menegaskan tidak mungkin anak buahnya bertindak diluar standar operasional prosedur.

Insiden itu pun menyebabkan lima orang anggota Polri meninggal dunia saat bertugas, satu napiter juga dinyatakan meninggal. Tidak berhenti disitu, peristiwa rusuh itu berlanjut pada penyanderaan terhadap Bripka Iwan Sarjana. Menggunakan strategi soft aproach, akhirnya drama penyanderaan anggota Polri oleh napiter berakhir pada Rabu (9/5) malam.

Usai kejadian rusuh di Mako Brimob, aksi teror kepada Polri dan masyarakat pun tak berhenti terjadi hingga Rabu (16/5) kemarin. Sel-sel teroris seakan bangun dari tidur dan menggunakan momentum untuk melancarkan aksi teror.

Usai drama penyanderaan di Mako Brimob, anggota Polri kembali menjadi korban teror. Bripka Mahrum Prencje harus menjadi korban penusukan yang dilakukan oleh Tendi Sumarno (23), warga Kampung Buniara RT 22/04 Desa Buniara, Tanjungsiang, Subang, Jawa Barat.

Kemudian jaringan teroris kembali berencana menyerang Mako Brimob. Kali ini dua remaja atas nama Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah berencana akan ikut membantu para napiter melakukan aksi teror. Bahkan keduanya membawa gunting yang akan digunakan untuk menyerang petugas. Beruntung petugas dapat mengamankan dua remaja tersebut dan tidak menimbulkan korban.

Selanjutnya aksi teror kembali terjadi. Bom meledak di Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (13/5) lalu. Tak tanggung-tanggung, bom tersebut menyerang tiga gereja di wilayah Surabaya. Menjadi miris aksi teror bom tersebut dilakukan oleh satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anak-anak mereka. Diketahui penyerang tiga gereja tersebut merupakan ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Kota Surabaya, Dita Supriyanto.

Esok harinya pada Senin (14/5) bom bunuh diri kembali terjadi. Kali ini teror tersebut menyerang Markas Polresta Surabaya. Aksi teror bom itu juga masih dilakukan oleh satu keluarga, Tri Murtiono berserta isteri dan ketiga anaknya. Namun anak bungsu Tri Murtiono, Aisyah Azzahra Putri (7), justru selamat dari aksi bom bunuh diri yang dilakukan kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Pasca ledakan bom bunuh diri itu, Aisyah masih sempat berdiri dan langsung ditolong oleh Kasat Resnarkoba AKBP Rony Faisal Faton.

Pada Rabu (16/5), aksi teror kembali menyasar Polri. Kali ini teroris menyerang Mapolda Riau. Kali ini serangan dilakukan dengan cara menabrakkan mobil kepada petugas. Dalam serangan ini, empat teroris tewas ditempak petugas, sedangkan satu anggota Polri atas nama Ipda Auzar harus menjadi korban.

Polri pun juga bergerak cepat dan tegas. Sejak insiden rusuh di Mako Brimob hingga teror di Mapolda Riau, Polri telah melakukan berbagai penggrebekan terhadap para terduga teroris dan sel-sel jaringan JAD. Sejumlah barang bukti pun juga ditemukan saat penggrebekan dilakukan. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, Panglima TNI Marsekal Hadi juga telah mengirimkan bantuan Kopassus untuk membantu tim Densus 88 dalam mengincar seluruh sel teroris.

Sementara itu, publik juga terus mendesak DPR segera mengesahkan RUU Terorisme. Namun DPR beralasan, ditundanya pengesahan RUU Terorisme sejak tahun 2016 lantaran pemerintah belum setuju dan menemukan kata sepakat tentang defenisi teror dalam RUU tersebut. Disisi lain, Presiden Jokowi justru berencana akan mengeluarkan Perppu Antiteror jika DPR tidak segera mengesahkan RUU Terorisme. Segera hentikan aksi teror!

Sekilas penjelasan Kapolri Jenderal Tito Karnavian tentang sejumlah aksi teror dan penanganan yang telah dan akan dilakukan oleh Polri beserta TNI dan aparat lainnya. [fad]

Tags

Komentar

Embed Widget

x