Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 20 Mei 2018 | 17:16 WIB
 

Kematian 60 Warga Palestina Sulut Perang Baru

Oleh : - | Rabu, 16 Mei 2018 | 06:34 WIB
Kematian 60 Warga Palestina Sulut Perang Baru
Unjuk rasa di perbatasan Gaza-Israel. - (Foto: Times)

INILAHCOM, Jakarta--Kematian sedikitnya 60 warga Palestina yang dibunuh pasukan keamanan Israel dalam demonstrasi di perbatasan Gaza-Israel pada Senin (14/5) lalu bakal menyulut peperangan baru.

Pihak berwenang Palestina menyebutkan bahwa selain puluhan yang tewas masih ada sekitar 2.700 orang yang cedera dalam peristiwa yang mereka sebut sebagai 'pembunuhan massal', demikian laporan yang dikutip dari BBC.

Warga Palestina sudah melakukan unjuk rasa selama enam pekan lebih, sebagai bagian dari aksi yang disebut Hamas "Pawai Besar untuk Pulang".

Namun unjuk rasa Senin dan Selasa sebagai protes atas pembentukan negara Israel tahun 1948, pengungsian ratusan ribu warga Palestina dari rumahnya akibat perang, dan peresmian pembukaan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Kematian warga Palestina dalam jumlah besar hanya dalam sehari itu telah mendorong Dewan Keamanan (DK) PBB menggelar pertemuan darurat hari Selasa (15/5) waktu New York, atau Rabu (16/5) WIB.

Banyak sekutu Amerika Serikat, bersama dengan musuh-musuhnya, menyatakan kecaman terhadap keputusan Negara Adidaya ini untuk membuka kedutaan besarnya di Yerusalem, yang dikatakan akan meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Turki dan Israelmasing-masing sudah mengusir diplomat senior mereka sehari setelah bentrokan berdarah tersebut. Dikutip dari Reuters, Turki mengatakan kepada duta besar Israel untuk meninggalkan negara itu.

Turki menjadi salah satu pengkritik paling vokal atas tanggapan Israel terhadap protes Gaza dan langkah Kedutaan AS. Negara tersebut juga menyerukan akan pertemuan darurat negara-negara Islam pada Jumat (18/5).

Beberapa jam kemudian, Kementerian Luar Negeri Israel pun membalas dengan mengatakan Konsul Jenderal Turki di Yerusalem telah dipanggil dan diperintahkan untuk kembali ke Turki, dengan alasan "keperluan konsultasi selama jangka waktu tertentu." [lat]

Komentar

 
Embed Widget

x