Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 23 September 2018 | 14:11 WIB

Ketidakpastian Bayangi Pemilu Legislatif Irak

Oleh : Didi Prambadi | Sabtu, 12 Mei 2018 | 11:15 WIB

Berita Terkait

Ketidakpastian Bayangi Pemilu Legislatif Irak
Gedung parlemen Irak - (Foto: mirror)

INILAHCOM, Baghdad--Untuk pertama kalinya sejak terbebas dari ISIS, Irak mengelar pemilihan legislatif untuk menciptakan kestabilan politik dan kemajuan ekonomi.

Kantor berita Reuters mengabarkan Jumat (11/5), negara berpenduduk 37,2 juta jiwa dan penghasil minyak itu berupaya mencari formula untuk menjaga kestabilan politik, usai kejatuhan Presiden Saddam Hussein, 2003 lalu. Sebanyak 7 ribu kandidat dari tiga kelompok etnis dan agama, akan memperebutkan 328 kursi parlemen dan memainkan peranan penting dalam pemilu ini. Mereka adalah kelompok Syiah, Sunni Arab dan Kurdi.

Namun warga Irak tidak banyak berharap pada anggota parlemen baru yang harus bekerja keras membenahi Irak yang kini menghadapi tantangan berat. Ekonomi Irak tetap tak banyak bergerak, akibat ketegangan sektarian yang menghantui Irak selama 2006 - 2007 merupakan ancaman terbesar Irak.

"Saya ikut pemilu, tapi saya akan memberi tanda X dalam surat suara," tutur Jamal Mowasawi. "Tidak ada keamanan, tidak ada pekerjaan, tidak ada pelayanan memadai. Para calon legislatif hanya memikirkan kantongnya sendiri, dan tidak membantu warga Irak," sambung Jamal Mowasawi, 61, yang bekerja sebagai tukang jagal hewan.

Di antara calon kuat termasuk Haider al-Abadi yang kini menjadi PM Irak. Namun al-Abadi dianggap gagal membenahi ekonomi dan bukan pemimpin yang karismatik. Meski Partai Aliansi Kemerdekaan, partai pendukungnya menang mayoritas kursi, namun Abadi perlu membentuk pemerintah koalisi dengan kelompok lainnya.

Dua penantang lainnya adalah Nuri al-Maliki, mantan PM Irak, dan Hadi al-Amiri yang didukung milisi Syiah Iran. Amiri hidup di pengasingan di Iran dan kini memimpin Organisasi Badr, tulang punggung utama yang mengalahkan ISIS. Bila Amiri menang, berarti kemenangan juga bagi Iran, sehingga al-Amiri akan berebut pengaruh dengan kelompok lain di Timur Tengah.

Hasil pemilu yang dimulai Sabtu (12/5) ini harus menunggu perhitungan suara final hingga tiga bulan ke depan, sebelum pemerintahan baru Irak terbentuk. [lat]

Komentar

Embed Widget
x