Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 13:55 WIB

Ribuan Etnis Kachin Kabur dari Myanmar

Senin, 30 April 2018 | 06:35 WIB

Berita Terkait

Ribuan Etnis Kachin Kabur dari Myanmar
(Foto: christiantoday)

INILAHCOM, Naypyidaw--Setelah ratusan ribu warga etnis Rohingya kabur tahun lalu, giliran ribuan orang etnis Kachin melarikan diri dari Myanmar.

Selain ribuan orang mengungsi, konflik itu dikhawatirkan membuat sejumlah orang terperangkap di area rawan, dekat dengan perbatasan Cina. Berbagai organisasi kemanusiaan telah mendesak pemerintah untuk membuka akses bagi pasokan bantuan.

"Kerisauan terbesar kami adalah keselamatan para warga sipil, termasuk perempuan hamil, kaum jompo, anaka-anak, dan para difabel," kata Mark Cutts, kepala kantor koordinasi urusan kemanusiaan PBB, kepada kantor berita AFP.

"Kami harus memastikan bahwa orang-orang ini dilindungi," tambahnya.

Di samping menghadapi krisis Rohingya di bagian barat, Pemerintah Myanmar juga menghadapi pemberontakan etnis Kachin di bagian utara.

Etnis Kachin, yang sebagian besar beragama Kristen, telah memperjuangkan perluasan otonomi daerah di negara mayoritas berpenduduk Buddhis ini sejak 1961.

Di sepanjang negara bagian Kachin dan Shan, diperkirakan 120.000 orang tercerai berai akibat pertempuran.

Selama enam tahun terakhir, Pemerintah Myanmar gencar berupaya menggelar kesepakatan damai dengan sejumlah kelompok etnik, menurut koresponden BBC di Asia Selatan, Jonathan Head.

Akan tetapi, upaya perdamaian dengan etnik Kachin sangat alot. Bahkan, pertempuran dengan KIO--yang merupakan kelompok pemberontak paling tangguh di Myanmar--terus berlangsung.

Pertempuran antara militer Myanmar dan KIO berjalan secara sporadis sejak gencatan senjata dilanggar pada 2011.

Berbagai kelompok pembela HAM mengklaim Pemerintah Myanmar telah meningkatkan serangan ke arah kelompok Kachin, justru ketika perhatian global memusat pada etnik Rohingya. Apalagi ketika 700.000 orang Rohingya kabur ke Bangladesh pada 2017 lalu.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan bulan lalu, tim pencari fakta PBB mencatat "lonjakan pelanggaran dan pelecehan terhadap HAM" termasuk pembunuhan tanpa proses hukum, penyiksaan, dan kekerasan seksual. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget
x