Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Juli 2018 | 19:50 WIB
 

Pemain Utama Senjata Dunia Bertarung di Suriah

Oleh : - | Sabtu, 14 April 2018 | 06:37 WIB
Pemain Utama Senjata Dunia Bertarung di Suriah
Perang di Suriah - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, JakartaSituasi di Timur Tengah, khususnya di Suriah, semakin memanas setelah diketahui persenjataan Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang sudah berada di kawasan Timur Tengah siap dikerahkan ke Suriah, sementara sistem pertahanan udara Rusia sudah terpasang di Suriah.

Presiden AS Donald Trump sudah mengatakan kepada Rusia agar 'siap' dengan serangan rudal atas sekutunya Suriah sebagai tanggapan terhadap dugaan serangan kimia baru-baru ini di dekat ibu kota Damaskus.

Indikasi menunjukkan serangan yang direncanakan Washington--dengan kemungkinan bantuan dari Inggris dan Prancis--juga akan melibatkan kapal perang dan kapal selam dari jarak jauh.

Sementara pesawat tempur akan melancarkan serangan dari luar jangkauan sistem pertahanan udara Suriah atau dengan menggunakan pesawat tak berawak yang dikendalikan dari jauh.

Para pejabat Rusia sudah memperingatkan bahwa rudal-rudal yang mengarah ke Rusia akan dijatuhkan dan 'tempat peluncur' akan menjadi sasaran serangannya.

Namun senjata apa saja yang dimiliki para negara pemain utama dalam perang Suriah yang siap dikerahkan?

AS yang sudah mengerahkan kapal perusak USS Donald Cook di kawasan Mediterania, kemungkinan akan menyasar fasilitas kimia di Suriah dengan rudal jelajahnya.

Serangan itu akan mencegah risiko pesawat tempurnya jatuh ditembak.

Tahun lalu, dua kapal perusak AS di kawasan timur Laut Mediterania menembakkan 59 rudal Tomahawk ke pangkalan udara Shayrat di Provinsi Homs, Suriah.

Pemerintah Washington mengatakan pangkalan udara itu merupakan tempat penyimpanan senjata kimia yang digunakan dalam serangan mematikan atas sebuah kota yang dikuasai pemberontak, sekitar 72 jam sebelum serangan rudal balasan.

Rudal Tomahawks menggunakan penampang kecil dan terbang rendah sehingga sulit dideteksi. Selain itu, juga hanya memancarkan sedikit panas, yang membuatnya tidak bisa dipantau oleh pendeteksi inframerah.

Angkatan Laut AS juga memiliki armada pesawat tempur dalam kapal induknya yang berada di kawasan Teluk, walau kecil kemungkinan untuk langsung dikerahkan ke kawasan udara Suriah karena berisiko ditembak jatuh.

Pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah terletak di Qatar dengan pesawat tempur F-16 dan A-10, yang bisa dikerahkan dengan cepat.

F-16 memiliki reputasi sebagai pesawat tempur yang paling bisa diandalkan dengan kemampuan manuver yang efektif dan memiliki jelajah terbang hingga 3.220km, yang membuatnya bertahan lebih lama di kawasan perang dibanding pesawat tempur lainnya.

AS juga memiliki pesawat pengebom B-52, yang sebelumnya pernah juga dikerahkan untuk melancarkan serangan di kawasan Timur Tengah.

Kobane -kota kecil Kurdi di perbatasan utara Turki dan Suriah- pernah digunakan AS sebagai pangkalan udara untuk membawa pasukan dan peralatan dengan pesawat angkut C130 dan C17.

Kedua jenis pesawat itu cukup besar untuk membawa pesawat kecil, seperti helikopter, dan juga bisa digunakan untuk mengisi bahan bakar bagi pesawat tempur di udara.

Sementaramenghadapi ancaman serangan itu, Rusia belum diketahui apakah mengerahkan sistem pertahanan udara S-400, yang andal namun belum teruji.

Sistem pertahanan udara berlapis itu ditempatkan di Suriah setelah sebuah pesawat tempur Rusia jatuh ditembak dan sejauh ini lebih berfungsi untuk pencegahan.

Dengan kemampuan menembakkan tiga jenis rudal, sistem tersebut dilaporkan mampu menghadapi semua sasaran udara termasuk pesawat dan rudal dalam jangkauan 400km dengan kecepatan dan efisiensi yang luar biasa, yang berarti bisa melindungi sebagian besar wilayah Suriah.

Rusia mengatakan sistem juga mampu menghadapi stealth--atau teknologi yang tidak bisa dipantau radar--dan tahun 2016 lalu sudah memperingatkan bahwa 'ilusi tentang pesawat yang tidak terlihat akan dihancurkan oleh kenyataan'.

Dr Martin S Navias dari Departemen Studi Perang di Kings College, London menjelaskan kemampuan S-400 akan membuat taktik menyerang sasaran yang tradisional menjadi semakin rumit.

Biasanya serangan udara ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan serangan dari darat ke udara, namun sistem pertahanan udara Rusia di Suriah akan menghambat upaya tersebut.

Daya jangkaunya juga mencapai ke luar ruang udara Suriah, yang berarti sasaran sudah bisa dicegat bahkan sebelum memasuki wilayah Suriah. Bagaimanapun beberapa pengamat masih meragukan klaim tentang kemampuan pencegatan S-400.

Rusia juga dilaporkan memiliki beberapa pesawat di Suriah, seperti pesawat pengebom Sukhoi-24, pesawat tempur Sukhoi-25, pesawat angkut, pesawat pengintai, dan helikopter tempur.

Sebagian besar dari pesawat tersebut berada -atau pernah- di pangkalan udara Hmeimim, yang menjadi basis utama Rusia dalam melancarkan serangan ke kelompok pemberontak.

Namun militer Rusia dilaporkan mulai menggunakan Shayrat sebagai pangkalan operasi mendatang untuk helikopter tempur Mi-24 dan Mi-35.

Dari Mediterania, pemerintah Kremlin mengatakan pernah menggunakan rudal jelajah Kalibr dari kapal selam Rostov-on-Don untuk serangan-serangan di Suriah.

Mereka juga pernah menembakkan roket dari Laut Kaspia, yang diklaim memukul sasaran-sasaran kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di Suriah.

Sementara itu, berdasarkan laporan-laporan terbaru, Rusia sudah menarik kapal perangnya dari pangkalan AL-nya di pelabuhan Tartus, Suriah. [bbc/lat]

Komentar

Embed Widget

x