Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 12 Desember 2018 | 17:25 WIB

AS Akan Bertindak Akibat Suriah Lepaskan Gas Saraf

Oleh : Didi Prambadi | Selasa, 10 April 2018 | 13:02 WIB

Berita Terkait

AS Akan Bertindak Akibat Suriah Lepaskan Gas Saraf
(Foto: independent)

INILAHCOM, New York - Perang mulut antara Rusia dan AS terjadi dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, Senin (9/4/2018), yang membahas tentang serangan gas saraf di pemukiman sipil Douma, Suriah.

BBC mengabarkan, Nikki Haley, wakil tetap AS di PBB menyatakan bahwa tangan Rusia, sebagai pendukung militer rezim Suriah, bersimbah darah bocah-bocah Suriah. Hal itu diungapkan Nikki Halley setelah Komunitas Medis Amerika-Suriah mengungkapkan sedikitnya 500 orang jadi korban gas saraf, dan kini berada di sejumlah rumah sakit di Douma.

Gejala yang ditemukan di tubuh korban menunjukkan indikasi terjadi serangan gas kimia, bunyi pernyataan itu. Di antaranya, kesulitan bernafas, kulit kebiruan, mulut berbusa dan kornea mata terbakar serta bau udara seperti klorin, bunyi pernyataan tersebut.

Belum diketahui berapa korban yang terkena gas mematikan itu, karena pihak militer Rusia dan Suriah melarang para peninjau memasuki kawasan Douma. Jumlah korban diduga berkisar antara 42 orang hingga 60 orang. Jumlah korban bakal semakin meningkat karena petugas palang merah dilarang memasuki kawasan tersebut.

Menanggapi hal itu, Vassily Nebezia, Dubes Rusia di PBB naik pitam. Vasilly mengancam AS bakal menghadapi reaksi yang buruk dari kuburan bila AS melakukan serangan terharap rezim Suriah, yang dituduh melakukan serangan gas saraf kepada penduduk sipil. Tidak ada serangan senjata kimia, kata Vassily Senin pagi. Rusia, menurutnya, mengundang badan pemeriksa internasional untuk meninjau kawasan Douma, Selasa besok.

Namun Nikki Haley tak gentar. Wakil AS di PBB itu mengutuk Presiden Rusia Bashar Al-Assad sebagai monster. Tidak peduli apakah Dewan Keamanan PBB akan bertindak atau tidak, tapi AS akan melakukan tanggapan, kata Nikki.

Menurutnya, para pejabat tinggi di Washington DC, tengah melakukan pertemuan, dan Keputusan akan diambil saat kita tengah berbicara di sini, kata Nikki mengancam. Sementara itu, Presiden Trump dalam Twitternya menjelaskan bahwa AS akan mengeluarkan keputusan penting dalam waktu 24 jam ke depan, tulisnya.

Komentar

Embed Widget
x